Senin, 09 Oktober 2017

TENTUKAN, KEMUDIAN TEGUHKAN


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang meruabah apa-apa yang ada pada diri mereka “ (Q.S:13:11)

Jika berbicara masalah hidup tak akan ada habisnya, karena sejatinya roda kehidupan itu berputar manusia kadang akan merasakan berada di atas angin kehidupan, namun setelah itu tak jarang manusia mengalami keadaan terbalik dalam hidupnya,  seperti seorang mahasiswa baru yang terlanjur diterima di sebuah Perguruan Tinggi pilihan orangtuanya awalnya ia merasa bahwa hidup ini tidaklah adil baginya, ia harus merelakan  namun terkadang pula menyalahkan diri sendiri karena sudah masuk ke jurusan yang bahkan  ia tak mengerti sama sekali bagaimana ia harus memulai, ia yang sejak dulu merasa mampu untuk bersaing di Perguruan Tinggi ternama di Indonesia malah terjebak di Perguruan Tinggi swasta yang tak terlalu dikenal banyak orang, ia bahakan menyalahkan dirinya karena ia bisa kalah dengan teman yang bahkan tak memiliki prestasi disekolahnya dulu, bahkan tak pernah serius saat belajar yang setiap harinya malah tidur di kelas dan selalu meminta bantuannya saat mengerjakan tugas sekolah. Namun itulah kehidupan, kita tidak bisa mengira takdir apa yang akan terjadi pada diri kita bahkan dalam  hal pendidikan sekalipun, ketika kita merasa kecewa akan sesuatu hal apakah itu akan  mengubah segalanya dan mengembalikan kita pada masa lalu yang telah usai untuk memperbaiki semuanya ? tentu saja tidak, hal itu sungguh mustahil karena kita tidak hidup di jaman dimana Doraemon berada, yang dapat dengan mudah kita pergi ke masa lalu dengan menggunakan pintu kemana saja miliknya, kita berada di kehidupan nyata yang semua peristiwa terjadi dengan nya bukan di kehidupan imajinatif belaka.
Pepatah mengatakan bahwa nasi telah menjadi bubur, dan masa lalu tak dapat diubah kembali, yang hanya kita bisa adalah bagaimana caranya membuat bubur itu menjadi bubur yang enak dan  nikmat untuk di santap. Begitupula dengan seorang mahasiswa ketika ia memasuki sebuah Universitas yang tidak sesuai dengan keinginannya bukan lantas ia menyalahkan diri dan orang lain karena hal itu, sebab hal itu tak akan mengubah keberadaannya, yang perlu ia lakukan adalah bagaimana ia bangkit dan menentukan arah dan tujuan hidupnya, mau dibawa kemanakah ia saat dirinya sudah berubah status menjadi seorang mahasiswa, menjadi mahasiswa yang kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang saja, atau kura-kura, mahasiswa yang kerjaanya hanya kuliah rapat-kuliah rapat, atau kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring). Begitu banyak pilihan bagi kita sebagai seorang mahasiswa untuk menentukan sikap, mau jdi seorang mahasiswa yang hanya peduli pada kehidupan pribadi dan akademiknya saja atau menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi yang lainnya. Hidup adalah pilihan mau jadi orang biasa saja atau menjadi orang yang luar biasa hebat dari berbagai aspek, mulai dari aspek akademik, sosial, dan religius, hal itu hanya anda yang dapat menjawabnya silahkan tentukan, kemudian teguhkan kareana sejatinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang benar-benar merubah apa-apa yang ada pada dirinya, maka dari itu tentukan pilihanmu sejak dini, mau jadi orang hebat yang memikirkan masalah besar atau menjadi seorang pecundang yang hanya dapat menyalahkan diri dan orang lain di sekitarmu. Hal itu pun terjadi padaku di awal aku memasuki Perguruan Tinggi kecewa dan banyak lagi perasaan bermunculan namun saat memasuki masa orientasi di kampusku aku baru sadar, bahwa tak peduli dimanapun kita menempuh pendidikan pada akhirnya masa depan kita tergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini, dan aku tak mau mengambil resiko menjadi seorang pecundang dimasa depan yang bahkan hanya akan menjadi beban keluarga terlebih bagi  negara dan agamaku. Maka dari itu saat itu pula aku berazzam untuk menjadi seseorang yang berhasil dan membanggakan dimasa depan kelak, untuk itu aku harus membunuh rasa kecewa menjadi rasa syukur dalam hati dan percaya bahwa setiap peristiwa pasti mengandung hikmah didalamnya. Maka dari itu kita perlulah mengambil sikap untuk menghadapi masa depan, tentukan kemudian teguhkan mau jadi apa kau dimasa yang akan datang.
Setiap peristiwa pasti akan membuahkan hikmah dan pelajaran bagi sipenerima peristiwa itu, dan aku pun dapat mengambil hikmah dari peristiwa masuknya aku di Universitas yang menjadi kampusku sekarang, aku jadi mudah bersaing dalah hal belajar dengan kawan-kawanku, menargetkan diri menjadi salah satu mahsiswa berprestasi di kampusku, tak muluk-muluk aku menargetkan Indeks Prestasi awal semesterku sebesar 3,85, kiranya itu yang lebih baik menurutku. Diawal semester aku mengikuti pembelajaran dengan semangat, berbebkal keyakinan dan tekad yang kuat setiap hari bahkan setiap ada jadwal pagi aku datang lebih awal bahkan sangat awal sekali ke kampus, jika jadwal kuliah ditentukan pukul 07.30 aku sudah berada di kampus pukul 06.30, setiap ada jadwal pagi selalu seperti itu , dan ayahku selalu sigap mengantarku setiap pagi. Hampir setiap hari, tanpa mengeluh.
Semangatku bertambah ketika mendapatkan ilmu baru, bertemu dengan dosen dan kawan-kawan baru, saling berbagi informasi, mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan para aktivis kampus, rasa ikhlas mengubah kekecewaan itu menjadi sebuah kebahagiaan. Tidak peduli seberapa keras orang mengejekku karena berkuliah di kampus swasta dan masih tinggal di Tasikmalaya. Yang aku yakini saat itu adalah bahwa semua Perguruan Tinggi itu sam asaja, bertujuan mencetak generasi yang cerdas yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Tergantung bagimana cara kita menjadi pembelajar yang baik. Ada yang berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri kenamaan di Indonesia tetapi jika tujuan dan niatnya kuliah hanya untuk mengikuti tren dan sebagai sarana prestise semata itu akan sia-sia. Karena segala sesuatu kegiatan yang kita lakukan adalah tergantung pada niat dan tujuan awal.
Jika niat kita kuliah untuk mencari ilmu sebagai kewajiban didunia yang harus diamalkan bahkan sampai mati sekalipun sebagai bentuk ketaatan kepada sang pencipta, maka tak akan ada lagi alasan untuk meninggalkan perkuliahan. Karena selalu ingat bahwa mencari ilmu itu adalah kewajiban dan merupakan kebutuhan setiap manusia. Berbeda dengan niatan seseorang yang kuliah hanya mengikuti tren semata, apalagi berada pada golongan orang-orang berada, mereka akan menyepelekan perkuliahan itu sendiri, pamit dari rumah untuk ke kampus setelah di kampus malah tidak mengikuti perkuliahan dan hanya duduk-duduk manis di kantin. Orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu maka dapat dipastikan seseorang tersebut akan jauh dari kata berhasil dalam kehidupannya.
Hal ini yang kemudian aku yakini, bahwa jika kita ingin berhasil dikemudian hari, maka kita harus menentukan kemudian meneguhkan niatan kita menjadi sebagai seorang mahasiswa. Jika ingin menjadi seorang pejabat, pengusaha,atau guru sekalipun, maka sejatinya kita harus bersungguh-sungguh dalam mencapainya, dengan tak lupa melibatkan Allah dalam stiap langkah yang kita ambil.
Setelah satu semester lamanya aku belajar menjadi seorang mahasiwa, menyerap berbagai ilmu dari para dosen, inilah waktu dimana aku harus mengevaluasi hasil belajarku. Waktu dimana aku dan kawan-kawan menghadapi ujian pertama sebagai seorang mahasiswa. Aku mencoba ngamalkan tips-tips yang diberikan kakak tingkatku yang kini menjadi dosenku. Belajar lebih giat, menentukan target, berdoa dan lain sebagainya. Saat ujian tiba, banyak teman sekelasku berencana untuk melakukan kerja sama, bahkan sahabat baruku pun sampai ketakutan karena mendapatkan ancaman akan dijauhi kawan satu kelas jika tidak memberikan jawabannya pada kawan yang lainnya. Hal ini membuatku geram, dan mencoba meyakinkan sahabatku itu bahwa tidak akan terjadi apapun jika kita tetap berbuat jujur, biarkan mereka mencari jawaban ujian itu dengan kemampuan mereka sendiri, tanpa harus dibantu oleh kita. Aku katakan itu agar kami dapat foku dalam mengerjalan soal-soal itu tanpa melakukan kecurangan, dan agar dapat mengetahui kemampuan masing-masing diri.
Seperti yang pernah aku kemukakan pada sebelunnya, bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, setelah ujian selesai dan pengumuman Indeks Prestasi sememster awal, merupakan titik balik apakah aku harus memepertahankan prestasi atau harus belajar lebih giat lagi demi mengejar target. Dan saat pengumuman ternyata benar, aku harus lebih keras belajar, karena aku hanya mendaptakan IP 3,76 masih jauh dari targrtku yang 3,85. Jika saat itu ada yang bertanya, kecewakah aku dengan hasilku itu ? maka aku jawab ya saat itu juga, rasanya geram sekali saat itu. Ketika sahabatku mendapatkan nilai lebih baik dariku, tapi mengapa aku tidak setara dengan mereka ? hal itu terus menjadi buah pikiranku selama berhari-hari.
Ada yang bilang seharusnya aku bersyukur karena menjdapatkan nilai besar di tingkat pertama, sedang yang lain jauh dibawahku. Namun hal itu tak berlaku padaku, karena prinsipku adalah bersyukur itu jika kita mendapatkan rezeki yang cukup sedang orang lain masih ada yag dibawahku,tetapi dalam masalah ilmu ? tak ada toleransi, aku harus lebih baik lagi dari ini, ketiak orang lain memiliki ilmu lebih banyak dari yang aku miliki, maka sudah sepantasnya hal itu menjadi sebuah pelecut persaingan untuk menjadi lebih baik lagi.
Tasikmalaya, 2014
Tahun ini menjadi tahun yang begitu mengesankan bagiku, ada beberapa pengalaman didalamnyanyang tak dapat aku lupakan, tahun dimana tekadku untuk menjadi seorang aktivis bermula ditahun ini. Ya saat itu himpunan mahasiswa jurusan mengadakan acara yang didalamnya adalah pemilihan dewan angkatan, pemilihan ini penting dilakukan guna untuk menampung aspirasi mahasiswa angkatan 2013 ini, dan masing-masing kelas wajib mendelegasikan 2 orang perwakilan kelasnnya untuk menjadi kandidat dewan angkatan.
Saat itu kelasku mengirimkan 2 orang kandidat laki-laki, namun pada waktu penyeleksian kedua orang tersebut tidak hadir, dan bebrapa kawan meminta bantuanku untuk itu, mau tidak mau aku mengorbankan diriku untuk mengikuti seleksi tersebut, tanpa persiapan sama sekali, saat itu aku dengan polos menjawab saja apa yang menjadi pertanyaan para senior.
Tibalah saat dimana pemilihan dewan angkatan itu dilakukan, dan hasilnya ? aku tak termasuk kedalamnya, dalam hati aku berucap syukur, karena jika terpilih maka amanah besar dapat menjadi beban bagiku. Dan memang pada dasarnya saat itu aku masih belum mempersiapkan diri dan resiko yang akan terjadi jika aku menjadi dewan angkatan.
 Setahun sudah berlalu saat aku bertekad dalam hatiku untuk menjadi seorang aktivis kampus, kini aku mendapatkan kesempatan untuk bergabung bersama para aktivis fakultasku yaitu Fakultas Ekonomi. Aku mengikuti seleksi untuk menjadi panitia Orientasi Mahasiswa Baru tingkat Fakultas, setelah sebelumnya mengikuti ajang dewan angkatan ditingkat jurusan dan harus gagal karena kurangnya persiapan, namun pada seleksi panitia Orientasi Mahasiswa Baru tingkat Fakultas ini aku lolos dan menjadi bagian keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi walaupun masih dalam kategori magang, namun hal itupun sudah sangat membuat senang diriku yang sedang mencoba mengaktualisasikan diri.
Saat menjadi aktivis magang, aku mencoba melakukan hal yang terbaik menurutku. Melakukan tugas-tugas dengan optimal, belajar dari beberapa kakak tingkat tentang anrti kesabaran dan kebijaksanaan, tidak merasa bahwa kita adalah senior yang harus dihormati junior. Mengerjakan tugas dengan seang hati tanpa ada instruksi, mendapatkan kawan, kakak dan sahabat baru. Memperkuat tali persaudaraan anatara satu dengan yang lainnya. Saat menjadi panitia OMBUS, aku dapat kesempatan untuk menjadi staf kesekretariatan, itu berarti tugasku adalah untuk mendata ulang siswa baru dan membagi kelompok mereka, senang rasanya mengetahui bahwa adik tingkat berasal dari beberapa kota diluar jawa barat.
Ya walaupun pada awal masuk ke Unsil ada sedikit kekecewaan, namun semua berubah menjadi sebuah kebanggaan, setelah status Unsil berubah dari Perguruan Tinggi Swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Itu menjadi tanda bahwa Unsil setara dengan Universitas negeri lainnya di Indonesia dalam hal status, walapun secara akreditasi lembaga masih belum menyamai yang lain, namun itu menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagiku. Benar adanya bahwa orang tua tidak mungkin membiarkan hal buruk terjadi pada anaknya, dan buktinya pilihan orangtuaku tak pernah salah.
Kembali ke masa OMBUS, aku mengerjakan segala tugasku dengan optimal dan bahakan selelu datang lebih pagi dibanding panitia yang lain, sampai salah satu kakak tingkatku berkata jangan terlalu pagi jika mengerjakan tugas, beri luang untuk yang lain bertugas agar kamu tidak kelelahan sendiri nantinya, dan agar yang lain mengerti akan tanggung jawab mereka disini. Senyuman menjadi jawaban atas perkataan kakak tersebut. Aku melakukan semuanya bukan demi mendapatakan perhatian siapaun, bukan untuk agar lebih diutakan dan terlihat rajin oleh kakak-kakak tingkatku. Namun aku melakukan semua tugas ini karena aku ikhlas dan senang melakukannya.
Sampai tibalah masa OMBUS itu sendiri, aku bertugas menjadi panitia bagian kesekertariatan, ini artinya aku dan kawan kawanku hanya akan berinteraksi dengan kertas, laptop dan printer, dengan penuh kesabran kami melakukannya demi kelancaran acara. Ya sesungguhnya menjadi seorang aktivis bukanlah sekedar agar dikenal oleh adik tingkat dan dianggap keren, bahkan lebih dari itu. Menjadi aktivis itu adalh sebuah pengabdian dan perjuangan, menjadi panutan bagi setiap umat dari berbagai aspek. Baik itu akademik, kepemimpinan, kesabaran dan lain sebagainya.
Jika menganggap bahwa menjadi aktivis itu hanya sekedar mengadakan acara dan eksis dimata adik-adik tingkat saja, itu salah besar . sekali lagi aku katakan jika menganggap aktivis itu hanya \sekedar mengadakan acara dan eksis dimata adik-adik tingkat dan mahasiswa yang lain, sungguh salah besar, mengapa ? karena jika ingin eksisi tak perlu jadi aktivis, dan jika ingin mengadakan acara yang wah megahnya, tak perlu jadi seorang aktivis, cukup jadi selebritis atau jadi event organizer saja.
Setiap prosesnya aku lalui dengan kesungguhan hati dan keikhlasan, banyak hal yang aku dapat dari masa magang ini yaitu pertemanan, persabahabatan, ilmu dan kenyamanan berbagi. Saling memahami karakter satu dengan lainnya, menjadikan diri ini paham bahwa kita tidak boleh egois dalam mengambil keputusan, tak boleh egois dalam bersikap. Selain OMBUS banyak lagi kegiatan yang aku ikuti saat masih menjadi aktivis magang. Dan semua itu meyakinkan diriku bahwa aku dapat menjadi seorang aktivis yang sesungguhnya, benar-benar menjadi aktivis yang mengabdi dan membela aspirasi rakyatnya, bukan hanya sekedar menjadi aktivis magang nan polos. Akan tetapi rasa senang itu tak berlangsung lama karena setelah proses magang itu impianku untuk menjadi bagian aktivis fakultas yang sesungguhnya harus sirna demi menuruti permintaan ibunda untuk berprestasi dalam bidang akademik terlebih dahulu sebelum memikirkan organisasi, maka niatku untuk menjadi seorang aktifis harus aku kubur dalam-dalam.

Kekhawatiran Ibundaku pun sangat beralasan menurutku, karena beliau takut jika nanti aku terlalu fokus pada organisasi maka aku akan lupa kewajibanku sebagai seorang anak yang mendapatkan amanah dari keluarga terkhusus kedua orangtuaku. Maka ku\coba bicara dan memahamkan bahwa sesungguhnya aku tak akan melupakan kewajibanku akan hal akademik, namun mereka tetap tidak percaya sampai aku memberikan bukti yang nyata pada mereka. Dan mau tidak mau aku harus kembali menuruti permintaan keluarga terutama permintaan ibunda agar aku lebih fokus pada akademik saja.

Minggu, 08 Oktober 2017

SELAMAT DATANG DI KAMPUS PERJUANGAN

Adakalanya segala sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan menurut kita buruk belum tentu buruk dimata Allah, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi “Diwajibkan atas kamu berperang, padalah perang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Memasuki jenjang pendidikan tinggi adalah impian semua orang yang mempunyai tekad, terlepas dari apa niatan yang sebenarnya, mungkin saja ada yang benar-benar ingin mendapatkan ilmu atau hanya sekedar mengikuti trend saja demi mengikuti gengsinya. Saat seorang siswa menempuh pendidikan di kelas XII SMA mereka sudah pasti memikirkan akan masuk ke perguruan tinggi mana, tentunya yang sesuai dengan minat dan mungkin “ego” mereka, untuk memasuki Perguruan tinggi yang dinilai terbaik di negeri ini tentunya harus dilakukan banyak hal, mulai dari belajar yang giat, mengikuti les private di tempat yang sudah terpercaya sampai menyiapkan uang berpuluh juta demi mendapatkan kursi di suatu Universitas ternama, tak lupa doa, shalat dan puasa sunnah dilakukan pula agar dapat lulus di Universitas yang mereka impikan karena kebanyakan dari manusia yakin bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil. Namun, mereka lupa jika sebaik apapun rencana manusia masih ada rencana Allah yang lebih baik. Ketika manusia merencanakan ini dan itu, sedang Allah merencanakan hal yang lain yang lebih baik tentunya, terkadang manusia tak akan mudah menerima itu, ia bahkan berubah menjadi kecewa bahkan mudah sekali menyalahkan Allah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Begitupun dengan orang-orang yang tak dapat memperoleh impiannya masuk ke Perguruan Tinggi ternama dan harus merelakan masuk ke Perguruan Tinggi yang tak banyak orang tahu di negeri ini. Karena permintaan orangtua yang menilai bahwa hal itu baik menerut mereka. Dan memang mau tidak mau itu memang benar bahwasannya orangtua tak akan mau menjerumusakan anaknya kejalan yang salah. Dan itupun berlaku padaku, kala aku harus merelakan masuk ke Perguruan Tinggi pilihan orangtuaku, alasannya sederhana saja karena aku tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan keluargaku dan akhirnya aku masuk di Universitas yang sama sekali bukan yang aku inginkan, bahkan aku tergolong sebagai orang yang sangat kecewa di terima di Universitas itu, ketika aku merasa mampu untuk bersaing di Universitas ternama di Negeri ini, Allah malah membuatku tak diterima disana, sedang orangtuaku pun tak memberikan ridhonya saat itu, bagiku itu adalah hal yang tak adil sama sekali. Dan menyalahkan adalah hal yang sangat mudah kala itu.
Dan mungkin itu juga terjadi pada mereka yang tak punya pilihan lain, menerima setiap permintaan orangtua mereka atau bahkan menerima suatu keadaan yang tak mereka harapkan. Namun, dari hal itu perlu kita ingat bahwa, Adakalanya segala sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan menurut kita buruk belum tentu buruk dimata Allah, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”  Dan setelah kita diterima di Perguruan Tinggi yang tidak kita harapkan itu harusnya kita dapat berpikir baik dan mengembalikan segalanya kepad Allah sebagai sebuah ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Karena sekeras apapun kita kecewa terhadap sesuatu yang telah lalu semua itu tak akan kembali, bahkan tak akan mengubah takdir Allah dalam hidup kita. Karena sejatinya yang akan Allah ubah dalam kehidupan kita itu adalah nasib dan bukan takdir.
Memasuki periode baru kehidupan, setiap ketidak ikhlasan yang ada dalam diri seseorang haruslah sudah terbuang dan berubah menjadi sebuah keikhlasan, setiap ketidakyakinan yang berasal dari dalam hati akan akan selalu berbuah pada ketidakpercayaan akan kemampuan diri yang telah diberikan Sang Pencipta. Maka ketidakyakinan itu haruslah berubah menjadi suatu keyakinan agar menjadi energi positif baik bagi diri maupun bagi lingkungan sekitar.

September 2013
             Hari itu menjadi hari yang paling ditunggu dalam hidupku, ya aku melangkahkan kaki kananku seraya mengucap Bismillahirrahmanirrohiim dengan diantar sepeda motor milik ayahku, aku berangkat setelah meminta izin dari ibunda tercinta menuju sebuah tempat yang akan memberikan ilmu lebih banyak dari yang aku terima selama 3 tahun belakangan ini, ya kini aku telah menjadi seorang mahasiswa, mahasiswa baru di universitas terbesar sepriangan timur, Universitas Siliwangi. Pagi itu adalah awal dari sebuah cerita baru milik Syara Salimatusyadiah, sang gadis kecil dengan mimpi besar, gadis biasa yang bermimpi luar biasa bahkan istimewa. Hari itu adalah hari pertama aku menjalani masa pengenalan lingkungan kampusku, mengenal lebih jauh apa itu mahasiswa, apa bedanya mahasiswa dengan seorang siswa. Rasa ingin tahu itu terus berkecamuk dalam fikiranku, ya walaupun masuk ke Universitas Siliwangi bukanlah bagian dari mimpi besarku tetapi setidaknya aku telah berusaha mewujudkan keinginan kedua orangtuaku agar tidak berada jauh dari mereka mengingat aku adalah seorang anak bungsu dikeluargaku.
Pagi itu aku berusaha menjadi seorang mahasiswa baru yang baik, mencoba mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan kakak panitia ataupun para pemateri baik itu dari jajaran rektor maupun pemateri umum. Namun ada hal menarik yang membuat motivasiku bertambah membuat semangatku berkobar sedemikian rupa, menjadikan diriku memiliki tujuan yang sebenarnya menjadi seorang mahasiswa yaitu ketika salah satu kakak panitia menjelaskan tema kegiatan masa orientasi yaitu “ TENTUKAN KEMUDIAN TEGUHKAN”. Beliau menjelaskan bahwa saat ini adalah saat dimana kami sebagai seorang mahasiswa menetukan jalan hidup masing-masing, mau jadi apa kami 5 tahun kedepannya ? tergantung apa yang kami lakukan saat ini, mau jadi mahasiswa biasa-biasa saja atau mau jadi mahasiwa luar biasa bahkan istimewa ? beliaupun menyuruh kami mahasiswa baru untuk menujuk posisi yang kami inginkan setelah menjadi mahasiswa ini .
 Maka hari itu dalam hati aku berkata, bahwa setelah saya menjadi seorang mahasiswa saya ingin seperti kakak panitia itu, selain cerdas, tegas juga memiliki visi hidup kedepan.  Selain memikirkan diri sendiri, namun juga memikirkan orang lain mencoba bermanfaat untuk banyak hal. Ikrarku saat itu tepatnya ditenda peserta orientasi mahasiswa dalam hati bahwa aku harus menjadi seorang aktivis, bahkan kata menjadi orang aktivis itu aku tuliskan dalam sebuah buku, bahwa aku harus menjadi seorang aktifis kampus, bukan hanya di ranah jurusan dan fakultas, namun juga Universitas.
Tekad dan mimpi itu aku pupuk setiap hari , berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku sudah berada dalam jalur yang pas dan sesuai dengan keinginan kedua orangtuaku.selain menjadi seorang aktivis akupun kembali termotivasi olah seorang kakak tingkatku yang sungguh luarbiasa, beliau adalah seorang aktivis tetapi beliau adalah salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan manajemen, beruntung saat masa orientasi beliau bisa memberikan masukan bagaimana caranya hidup sebagai seorang mahasiswa itu.
Karena kecerdasannya setelah lulus dan wisuda beliau langsung diangkat menjadi salah satu asisten dosen dijurusan manajemen. Penuh prestasi, selain cantik beliau dengan senang hati memberikan beberapa tips untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi yaitu diantaranya :
·         Belajar lebih keras dari yang lain
·         Diusahakan untuk duduk didepan saat pembelajaran
·         Aktif dikelas
·         Membuat copy-an materi dan dibaca dimanapun dan kapanpun
·         Tuliskan target memperoleh IPK minimal dan tempel di dinding kamar
·         Tidak mencontek saat ujian
·         Percaya pada kemampuan diri sendiri
·         Tidak belajar saat mepet waktu ujian atau dengan Sistem Kebut Semalam
·         Menuruti aturan dosen selagi tidak menyimpang dari norma
·         Berdoa

Tips-tips itu menjadi sebuah penyemangat baru bagiku, karena sejatinya niatanku berada ditempat ini adalah untuk belajar, menimba ilmu dan berprestasi. Menjadi ajang pembuktian bahwa aku dapat lebih berprestasi dibanding dengan kawan-kawanku yang berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri kenamaan di Indonesia.

Minggu, 01 Oktober 2017

AMBISI, IMPIAN DAN HARAPAN

Pada dasarnya manusia memiliki impian dan harapan masing-masing, karena dengan impian dan harapan menjadikan diri manusia itu lebih hidup dan lebih berwarna, selain itu pula menjadikan diri terasa mempunyai masa depan yang lebih cerah. Harapan dan impian itu ada agar manusia itu dapat lebih berkhusnudzon kepada Sang Pencipta. Tetapi terkadang manusia itu lupa melibatkan Allah di setiap mimpi dan harapannya. Dan hal itu pernah aku alami sendiri. Ketika kita merasa bahwa setiap mimpi itu dapat dicapai hanya dengan kerja keras dan berada pada tingkat keyakinan seseorang pada dirinya sendiri.
Saat itu adalah hari dimana aku harus masuk sekolah kemabli dan berada di kelas 12 SMA negeri di Tasikmalaya, dia tahun pelajaran 2012/2013 ini adalah tahun penentu apakan aku dan kawan-kawan akan berhasil lulus ditahap Ujiana Nasional dan mengakhiri status kami menjadi seorang siswa SMA atau harus menelan pahitnya pil kegagalan belajar selama 3 tahun lamamnya. Tahun itu menjadi tahun ekstra dalam belajar bagi aku dan kawa-kawan sekelas. Segala jenis pembelajaran kami lakukan mulai dari pemadatan bersama guru-guru pengampu pelajaran maupun belajar kelompok. Membahas soal-soal yang diprediksi akan keluar dalam Ujian Nasional mendatang.
Saat itu kami harus belajar lebih keras dari sebelumnya, segala bentuk kegiatan diluar pembelajaran kami hentikan, saat itu diawal kelas 12 aku masih menjabat sebagai ketua OSIS 1 atau lebih lazim di panggil wakil ketua OSIS, amanah yang berat itu harus segera di selesaikan mengingat bahwa aku sudah memasuki tahap akhir menjadi seorang siswi SMA. Maka dari itu, setelah segala program selesai, aku dan kawan-kawan lansung melakuakn serah terima jabatan yang sebelumnya telah dilakukan pemilihan ketua OSIS baru, hal itu diikuti oleh organisasi ekstrakulikuler yang lainnya. Setelah serah terima jabatan selesai bukan berarti kami bersantai ria karena tantangan selanjutnya telah menunggu yakni pintu gerbang menuju masa depan perlahan terbuka , semakin hari pintunya terbuka lebar dan semakin lebar saja.
Pembelajaran harus semakin dipadatkan saja dan waktu untuk bersenang-senang sudah tak ada lagi. Hal yang paling diingat dan akan terus diingat adalah ketika aku dan kawan-kawan duduk bersama didepan koperasi sekolah dengan berlembar-lembar soal Ujian Nasional tahun 2012 dan alat tulis ditangan. Salah satu kawan aku yang memiliki lebih banyak pemahaman di pelajaran fisika  tampil sebagai tutor dan dengan sabar mengajarkan kami menjelaskan pada kami hal yang tidak kami pahami. Hal seperti ini terus dilakukan guna memberikan pemahaman menghadapi soal-soal nanti.
Saat itu fokus kami hanya tentang Ujian Nasioanal semata, tanpa kami sadari bahwa periode pengenalan Universitas dan Sekolah Tinggi sudah mulai berjalan. Tepatnya pada bulan Desember 2012 sampai Januari 2013 adalah waktu terpadat sekolah kami kedatangan kakak-kakak mahasiswa, mereka mulai memperkenalkan kampus tempat mereka menimba ilmu, menjadi seorang mahasiswa. Pikiran yang terlintas pada kami masa itu adlah menjadi seorang mahasiswa itu bebas berekspresi, bebas tugas, bebas segala-galanya. Kami pun mulai mempersiapkan diri untuk memasuki periode baru pembelajaran yaitu mempersiapkan pendaftan masuk ke Universitas kenamaan di Indonesia. Begitupun yang aku lakukan kala itu, aku mulai sibuk memilih Universitas dan Jurusan mana yang akan aku ambil, berbagai macam informasi aku cari mengenai Universitas-universita yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke rasanya sudah aku cari masa itu. Namun tetap yang menjadi target aku pada universitas yang ada di Bandung, yaitu Universitas Padjadjaran dan Universitas Pendidikan Indonesia. Alasan mengapa aku memilih kedua Universitas itu untuk merajut mimpi dan harapan adalah karena reputasi Universitas yang tak terbantahkan lagi dan karena masih berada di tanah sunda. Pendaftran pun dilakukan di bulan Januari 2013 dengan bantuan guru bimbingan konseling.
Saat memilih jurusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, aku mencoba berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarga terutama ibunda. Aku menjelaskan pada ibu bahwa aku berminat untuk melanjutkan pendidikan dengan memilih jurusan Hubungan Internasional jika diterima di Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Pendidikan Kimia jika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), namun hal yang membuatku sedikit kecewa adalah tidak satupun dari dua jurusan itu yang diinginkan ibunda untuk menjadi masa depanku, beliau lebih menginginkan jika aku mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar disingkat PGSD di UPI kampus Tasikmalaya, atau Pendidikan Matematika di Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Mengingat bahwa aku adalah anak bungsu dikeluargaku ibu tak ingin aku terlalu jauh darinya. Hal itu tentunya tak masuk dalam daftar rencanaku kala itu, aku adalah gadis kecil dengan rencana besar, menginginkan keluar dari zona nyaman, menginginkan memiliki pengalaman hidup merantau di belahan bumi yang lain, tidak hanya berada di Tasikmalaya.
Saran tinggallah saran, meskipun tidak sepenuhnya diizinkan mendaftar masuk ke jurusan yang aku inginkan, aku tetap saja mendaftar namun hanya jurusan Pendidikan Kimia saja yang aku pilih, karena Hubungan Internasional dirasa lebih berat saingannya dibanding dengan Pendidikan Kimia. Alasan mengapa aku memilih jurusan itu, dikarenakan pertama aku menyukai mata pelajaran itu pada masa SMA, dan kedua aku ingin menang dalam persaingan dalam hal belajar antara aku dan saudara sepupuku yang memang tak pernah terpisahkan sejak masa TK sampai SMA, walaupun persaingan itu hanya aku saja yang membuatnya, karena saudaraku itu tidak pernah merasa bersaing dengan diriku. Ya dia mendaftar masuk ke jurusan Kimia Murni di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pendaftran sudah dilakukan, tinggal menunggu hasil untuk mengetahui apakan aku masih akan berada dikota yng sama dengan saudaraku atau tidak. Ambisiku untuk mengalahkannya dalah hal belajar sangat tinggi, karena itu aku harus lebih baik atau paling tidak setara dengannya dalam hal keilmuan. Tak sabar rasanya menunggu hasil , kami daftar melalui jalur prestasi dan hal yang diperhit ngkan panitia penerimaan mahasiswa kala itu adalah berdasarkan nilai raport masing-masing siswa. Selain bersama saudaraku, aku pun harus bersaing bersama teman-teman sekelasku dan teman-teman satu sekolah, ada hal yang tak akan aku lupakan kembali yaitui saat menunggu hasil, aku dan kawan-kawan sekelasku yang perempuan menuliskan harapan dam impian kami masing-masing salah satunya harapan untuk dapat diterima di Universitas impian kami dalam sebuah kertas, dan kertas itu diselipkan salah satu kawanku dalam Al-Quran miliknya, menurutnya agar lebih mudah didoakan, mungkin bagi sebagian orang hal itu buang-buang waktu dan perilaku konyol, tapi bagi kami kala itu adalah bagian dari doa atas harapan dan impian kami.
Sambil menunggu pengumuman hasil berikut menunggu jadwal Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional kala itu waktuku bersama kawan-kawan lebih banyak lagi dihabiskan untuk belajar dan berdiskusi. Bulan Maret pun tiba, ini adalah waktunya menhadapi ujian. Ujian Nasional sudah di depan mata. Segala bentuk pembelajaran sudah dilakukan, dan kami sudah siap menghadapi perang bersama soal-soal itu. Kami siap berempur menghadapi 20 paket soal ujian, ini akrtinya dalam satu kelas masing-masing siswa mendapat 1 paket soal, dan tidak ada yang sama maka akan sedikit sekali kecurangan dilakukan siswa dalam ujian ini. Aku adalah salah satu siswa yang sangat bersyukur dengan adanya 20 paket soal ini, hal ini akan membuktikan kemampuan masing-masing siswa, tanpa adanya kecurangan dalam praktik ujian ini. Karena aku yakin bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, proses belajar dan berdiskusi selama beberapa bulan ini akan membuahkan hasil yang manis, itu pasti adanya.Ujian pun dijalankan dengan penuh khidmat, tanpa gaduh dan tanpa kecurangan. Periode ujian ini berlalu selama 1 minggu saja, setelahnya kami terbebas dari beban belajar lebih keras dari biasanya.
Selesai masa ujian, waktu kami habiskan untuk bermain dan bersenang-senang ala siswa SMA, ya apalagi jika bukan menonton film bersama di kelas, dan banyak lagi. Pada dasarnya kami kala itu tidak sepenuhnya bebas karena kami masih harus deg-degan dengan hasil ujian dan hasil SNMPTN yang tak kunjung datang. Hari demi hari kami jalani dengan perasaan cemas. Namun aku merasa bahwa aku akan lulus dalam seleksi SNMPTN maupun dalam Ujian Nasional ini, karena aku yakin bahwa aku memiliki kemampuan untuk itu. Dan memang pada dasarnya anganku menginginkan aku untuk lolos, karena jika tidak lolos maka ibundaku tak mengizinkan kembali untuk mendaftar menjadi mahasiswa di luar kota Tasikmalaya. Hal itu yang membuat ambisiku bertambah, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa lolos dan bisa merantau.
Ambisi jika kita tidak mampu meredamnya maka akan membawa malapetaka bagi diri yang empunya ambisi itu sendiri, sedang impian dan harapan jika tidak disertai usaha dan doa hanya akan menjadi angan-angan belaka, pelahan tapi pasti semua hal itu akan menghancurkan sesiapa saja yang merasa cukup dengan memilki harapan dan impian itu sendiri tanpa melibatkan Allah didalamnya. Sedang ambisi bagi yang tidak bisa meredamnya bagai api yang berlahan membakar lilin di malam hari, membawa pada kegelapan yang nyata. Maka dari itu kita harus dapat meredam ambisi yang ada pada diri masing-masing agar tak menjadi penyebab kehancuran itu sendiri.
Sampailah aku pada hari dimana hasil SNMPTN itu di umumkan, saat itu guru bimbingan konseling sekolah kami memberitahu bahwa pengumuman dapat dilihat secara online. Aku dengan perasaan deg-degan membuka laptop dan membuka website yang menampilkan pengumuman hasil SNPMPTN itu sendiri, perlahan aku memasukan nomor peserta dan proses pengumuman sedang dimuat, dalam hati aku terus meyakinkan bahwa aku pasti lolos, dan saat halaman web terbuka terdapat pengumuman disana dengan bertuliskan “MAAF ANDA TIDAK LULUS, SILAHKAN COBA KEMBALI, TERIMAKASIH”
Bagai tersambar petir disiang bolong kala membaca tulisan yang tertera di halama web tersebut. Aku bertanya dalam hati, apakah ini benar, bukan mimpi ? sejenak aku berharap bahwa itu adalah mimpi belaka, hati maupun pikiranku menolak adanya tulisan itu di halaman web itu, seharusnya tulisan itu memuat kata yang lebih indah tapi mimpi buruk apakah ini, dan dengan berat hati aku menutup pengumuman itu, berharap tak pernah melihat dan mengingatnya, karena itu sangat menyakitkan bagiku. Aku jadi teringat sekitar 3 tahun yang lalu hal yang sama terjadi padaku saat aku mendaftarkan diri di SMA terfavorit yang ada di Tasikmalaya, tulisan dan kata-kata yang disampaikan guru kala itu sama seperti tulisan yang baru saja aku lihat di halama web milik DIKTI. Dengan segera aku melangkan menuju rumah saudaraku, memastikan kabar yang ia dapatkan dari pengumuman hari itu. Saat berada dirumahnya aku mendapati kabar bahwa ia sedang berada disekolah, membuka pengumumannya disana bersama kawan-kawannya. Dengan perasaan tak sabar aku menunggunya dan tak lama ibunya memberitahuku bahwa sepupuku itu lulus dan dapat dipastikan menjadi bagian dari keluarga besar jurusan Kimia Murni di ITB.
Mendengar itu perasaanku bercampur aduk, entah harus sedih atau senang, entah harus tersenyum atau menangis, aku pulang dengan langkah letih membayangkan bahwa aku harus merelakan impian dan harapanku sirna didepan mataku, kesempatan berada dalam satu kopta yang sama dengan saudaraku itu hilang, bayangan bahwa aku harus masuk ke Universitas Swasta di Tasikmalaya, tak sempat aku beristirahat dari pikiranku sejurus kemudian aku mendapatkan pesan dari kawan-kawan sekelasku, sesiapa saja yang lulus dalam seleksi SNMPTN itu dan salah satunya ada kawanku yang secara dzahir lebih dibawah dariku jika masalah prestasi, namun dia lulus dan menjadi keluarga besar UNPAD, hal itu membuat perasaanku semakin campur aduk. Setelah sampai dirumah aku mengurung diriku didalam kamar dan menangis sejadi-jadinya, kekecewaan yang aku alami sepertinya tidak ada habisnya. Kabar bahagia dari kawan-kawan menjadi kabar buruk bagiku kala itu.
Ibundaku bertanya dan aku menjelaskan bahwa aku tak lulus masuk ke UPI dan mencoba menenangkan, namun itu tak cukup, perlahan ambisiku itu membawaku dalam jurang kegelapan, hatiku menyalahkan ibunda yang tak sepenuhnya meridhoi aku mendaftar kala itu. Aku menangis dan terus menangis setiap ada yang bertanya buka jawaban berupa ucapan yang aku berikan namun air mata, dan itu cukup membuat orang diam. Dan ketika ibunda menyuruhku untuk beristirahat satu tahun agar beliau dapat menyelesaikan kuliah kakak laki-lakiku membuatku semakin marah dan merasa dibeda-bedakan, beberapa kali aku tak mau makan karena tidak terima dengan keputusan ibunda.
Hal itu membuat ibunda khawatir, ya setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun karena alasan ekonomi mengharuskan beliau memikirkan hal itu yang berdampak pada rasa sakit yang dialami anaknya. Tak ingin anaknya berada dalam keterpurukan, akhirnya beliau mengizinkanku mendaftar kuliah, namun hanya di Universitas Siliwangi yang pada saat itu berstatus Universitas Swasta. Mau tidak mau aku mengikuti saran beliau dan keluargaku, aku mendaftar dan masih bingung harus mengambil jurusan apa. Ibunda bersikeras agar aku mengambil jurusan Matematika sedang aku lebih tertarik pada Bahasa Inggris, beliau beranggapan bahwa aku akan mampu mengikuti perkuliahan dan akan menjadi calon guru yang baik untuk masa depan, tetapi aku tidak percaya pada kemampuan diriku, mungkin saja aku mampu mengikuti perkulihan mendapat nilai yang sempurna, namun untuk menjadi guru dan mengajarkannya pada banyak orang, aku khawatir jika hal itu tak dapat aku lakukan. Aku lebih tertarik pada Bahasa Inggris. Sampai kakakku yang di Bandung memberikan masukan lewat telpon, jika ingin pandai berbahasa inggris itu dapat dilakukan dengan mengikuti pelajaran tambahan atau private pada ahlinya, karena memang bahasa pasti diperlukan untuk masa depan, tetapi jika ilmu lain seperti matematika dan yang lainnya itu hanya akn didapatkan hanya dengan memahami ilmunya, hal itu membuatku bingung, sampai ada saudaraku yang lain menyarankan untuk mengambil jurusan manajemen, walaupun satu fakultas dengan jurusan akuntansi yaitu fakultas ekonomi, namun jurusan manajemen dapat lulus dengan target 3,5 tahun.

Dengan perasaan bingung aku mendaftar di jurusan manajemen sebagai pilihan pertama dan bahasa inggris di pilihan kedua, dan kabar yang aku dapat setelah itu adalah bahwa aku diterima di jurusan Manajemen dan menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Ekonomi Universitas Siliwang disingkat UNSIL.