Adakalanya
segala sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan
menurut kita buruk belum tentu buruk dimata Allah, sebagaimana firman Allah
dalam kitab suci Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi
“Diwajibkan atas kamu berperang, padalah perang itu adalah sesuatu yang kamu
benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
Memasuki jenjang
pendidikan tinggi adalah impian semua orang yang mempunyai tekad, terlepas dari
apa niatan yang sebenarnya, mungkin saja ada yang benar-benar ingin mendapatkan
ilmu atau hanya sekedar mengikuti trend saja demi mengikuti gengsinya. Saat
seorang siswa menempuh pendidikan di kelas XII SMA mereka sudah pasti
memikirkan akan masuk ke perguruan tinggi mana, tentunya yang sesuai dengan
minat dan mungkin “ego” mereka, untuk memasuki Perguruan tinggi yang dinilai
terbaik di negeri ini tentunya harus dilakukan banyak hal, mulai dari belajar
yang giat, mengikuti les private di
tempat yang sudah terpercaya sampai menyiapkan uang berpuluh juta demi
mendapatkan kursi di suatu Universitas ternama, tak lupa doa, shalat dan puasa
sunnah dilakukan pula agar dapat lulus di Universitas yang mereka impikan
karena kebanyakan dari manusia yakin bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil.
Namun, mereka lupa jika sebaik apapun rencana manusia masih ada rencana Allah
yang lebih baik. Ketika manusia merencanakan ini dan itu, sedang Allah
merencanakan hal yang lain yang lebih baik tentunya, terkadang manusia tak akan
mudah menerima itu, ia bahkan berubah menjadi kecewa bahkan mudah sekali
menyalahkan Allah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Begitupun dengan
orang-orang yang tak dapat memperoleh impiannya masuk ke Perguruan Tinggi
ternama dan harus merelakan masuk ke Perguruan Tinggi yang tak banyak orang
tahu di negeri ini. Karena permintaan orangtua yang menilai bahwa hal itu baik
menerut mereka. Dan memang mau tidak mau itu memang benar bahwasannya orangtua
tak akan mau menjerumusakan anaknya kejalan yang salah. Dan itupun berlaku
padaku, kala aku harus merelakan masuk ke Perguruan Tinggi pilihan orangtuaku,
alasannya sederhana saja karena aku tak punya pilihan lain selain mengikuti
keinginan keluargaku dan akhirnya aku masuk di Universitas yang sama sekali
bukan yang aku inginkan, bahkan aku tergolong sebagai orang yang sangat kecewa
di terima di Universitas itu, ketika aku merasa mampu untuk bersaing di
Universitas ternama di Negeri ini, Allah malah membuatku tak diterima disana,
sedang orangtuaku pun tak memberikan ridhonya saat itu, bagiku itu adalah hal
yang tak adil sama sekali. Dan menyalahkan adalah hal yang sangat mudah kala
itu.
Dan mungkin itu juga
terjadi pada mereka yang tak punya pilihan lain, menerima setiap permintaan
orangtua mereka atau bahkan menerima suatu keadaan yang tak mereka harapkan.
Namun, dari hal itu perlu kita ingat bahwa, Adakalanya segala sesuatu yang
menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan menurut kita buruk
belum tentu buruk dimata Allah, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci
Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi “Diwajibkan atas kamu
berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak
mengetahui.” Dan setelah kita diterima
di Perguruan Tinggi yang tidak kita harapkan itu harusnya kita dapat berpikir
baik dan mengembalikan segalanya kepad Allah sebagai sebuah ketaatan seorang
hamba kepada Tuhannya. Karena sekeras apapun kita kecewa terhadap sesuatu yang
telah lalu semua itu tak akan kembali, bahkan tak akan mengubah takdir Allah
dalam hidup kita. Karena sejatinya yang akan Allah ubah dalam kehidupan kita itu
adalah nasib dan bukan takdir.
Memasuki periode baru
kehidupan, setiap ketidak ikhlasan yang ada dalam diri seseorang haruslah sudah
terbuang dan berubah menjadi sebuah keikhlasan, setiap ketidakyakinan yang
berasal dari dalam hati akan akan selalu berbuah pada ketidakpercayaan akan
kemampuan diri yang telah diberikan Sang Pencipta. Maka ketidakyakinan itu
haruslah berubah menjadi suatu keyakinan agar menjadi energi positif baik bagi
diri maupun bagi lingkungan sekitar.
September 2013
Hari itu menjadi hari yang paling ditunggu
dalam hidupku, ya aku melangkahkan kaki kananku seraya mengucap Bismillahirrahmanirrohiim dengan diantar
sepeda motor milik ayahku, aku berangkat setelah meminta izin dari ibunda
tercinta menuju sebuah tempat yang akan memberikan ilmu lebih banyak dari yang
aku terima selama 3 tahun belakangan ini, ya kini aku telah menjadi seorang
mahasiswa, mahasiswa baru di universitas terbesar sepriangan timur, Universitas
Siliwangi. Pagi itu adalah awal dari sebuah cerita baru milik Syara
Salimatusyadiah, sang gadis kecil dengan mimpi besar, gadis biasa yang bermimpi
luar biasa bahkan istimewa. Hari itu adalah hari pertama aku menjalani masa
pengenalan lingkungan kampusku, mengenal lebih jauh apa itu mahasiswa, apa
bedanya mahasiswa dengan seorang siswa. Rasa ingin tahu itu terus berkecamuk
dalam fikiranku, ya walaupun masuk ke Universitas Siliwangi bukanlah bagian
dari mimpi besarku tetapi setidaknya aku telah berusaha mewujudkan keinginan
kedua orangtuaku agar tidak berada jauh dari mereka mengingat aku adalah
seorang anak bungsu dikeluargaku.
Pagi itu aku berusaha
menjadi seorang mahasiswa baru yang baik, mencoba mendengarkan dengan seksama
apa yang disampaikan kakak panitia ataupun para pemateri baik itu dari jajaran
rektor maupun pemateri umum. Namun ada hal menarik yang membuat motivasiku
bertambah membuat semangatku berkobar sedemikian rupa, menjadikan diriku
memiliki tujuan yang sebenarnya menjadi seorang mahasiswa yaitu ketika salah
satu kakak panitia menjelaskan tema kegiatan masa orientasi yaitu “ TENTUKAN
KEMUDIAN TEGUHKAN”. Beliau menjelaskan bahwa saat ini adalah saat dimana kami
sebagai seorang mahasiswa menetukan jalan hidup masing-masing, mau jadi apa
kami 5 tahun kedepannya ? tergantung apa yang kami lakukan saat ini, mau jadi
mahasiswa biasa-biasa saja atau mau jadi mahasiwa luar biasa bahkan istimewa ?
beliaupun menyuruh kami mahasiswa baru untuk menujuk posisi yang kami inginkan
setelah menjadi mahasiswa ini .
Maka hari itu dalam hati aku berkata, bahwa
setelah saya menjadi seorang mahasiswa saya ingin seperti kakak panitia itu,
selain cerdas, tegas juga memiliki visi hidup kedepan. Selain memikirkan diri sendiri, namun juga
memikirkan orang lain mencoba bermanfaat untuk banyak hal. Ikrarku saat itu
tepatnya ditenda peserta orientasi mahasiswa dalam hati bahwa aku harus menjadi
seorang aktivis, bahkan kata menjadi orang aktivis itu aku tuliskan dalam
sebuah buku, bahwa aku harus menjadi seorang aktifis kampus, bukan hanya di
ranah jurusan dan fakultas, namun juga Universitas.
Tekad dan mimpi itu aku
pupuk setiap hari , berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku sudah berada
dalam jalur yang pas dan sesuai dengan keinginan kedua orangtuaku.selain
menjadi seorang aktivis akupun kembali termotivasi olah seorang kakak tingkatku
yang sungguh luarbiasa, beliau adalah seorang aktivis tetapi beliau adalah
salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan manajemen, beruntung saat masa
orientasi beliau bisa memberikan masukan bagaimana caranya hidup sebagai
seorang mahasiswa itu.
Karena kecerdasannya
setelah lulus dan wisuda beliau langsung diangkat menjadi salah satu asisten
dosen dijurusan manajemen. Penuh prestasi, selain cantik beliau dengan senang
hati memberikan beberapa tips untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi yaitu
diantaranya :
·
Belajar lebih keras dari yang lain
·
Diusahakan untuk duduk didepan saat
pembelajaran
·
Aktif dikelas
·
Membuat copy-an materi dan dibaca
dimanapun dan kapanpun
·
Tuliskan target memperoleh IPK minimal
dan tempel di dinding kamar
·
Tidak mencontek saat ujian
·
Percaya pada kemampuan diri sendiri
·
Tidak belajar saat mepet waktu ujian
atau dengan Sistem Kebut Semalam
·
Menuruti aturan dosen selagi tidak
menyimpang dari norma
·
Berdoa
Tips-tips
itu menjadi sebuah penyemangat baru bagiku, karena sejatinya niatanku berada
ditempat ini adalah untuk belajar, menimba ilmu dan berprestasi. Menjadi ajang
pembuktian bahwa aku dapat lebih berprestasi dibanding dengan kawan-kawanku
yang berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri kenamaan di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar