Minggu, 08 Oktober 2017

SELAMAT DATANG DI KAMPUS PERJUANGAN

Adakalanya segala sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan menurut kita buruk belum tentu buruk dimata Allah, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi “Diwajibkan atas kamu berperang, padalah perang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Memasuki jenjang pendidikan tinggi adalah impian semua orang yang mempunyai tekad, terlepas dari apa niatan yang sebenarnya, mungkin saja ada yang benar-benar ingin mendapatkan ilmu atau hanya sekedar mengikuti trend saja demi mengikuti gengsinya. Saat seorang siswa menempuh pendidikan di kelas XII SMA mereka sudah pasti memikirkan akan masuk ke perguruan tinggi mana, tentunya yang sesuai dengan minat dan mungkin “ego” mereka, untuk memasuki Perguruan tinggi yang dinilai terbaik di negeri ini tentunya harus dilakukan banyak hal, mulai dari belajar yang giat, mengikuti les private di tempat yang sudah terpercaya sampai menyiapkan uang berpuluh juta demi mendapatkan kursi di suatu Universitas ternama, tak lupa doa, shalat dan puasa sunnah dilakukan pula agar dapat lulus di Universitas yang mereka impikan karena kebanyakan dari manusia yakin bahwa usaha tak akan mengkhianati hasil. Namun, mereka lupa jika sebaik apapun rencana manusia masih ada rencana Allah yang lebih baik. Ketika manusia merencanakan ini dan itu, sedang Allah merencanakan hal yang lain yang lebih baik tentunya, terkadang manusia tak akan mudah menerima itu, ia bahkan berubah menjadi kecewa bahkan mudah sekali menyalahkan Allah dengan apa yang terjadi pada dirinya. Begitupun dengan orang-orang yang tak dapat memperoleh impiannya masuk ke Perguruan Tinggi ternama dan harus merelakan masuk ke Perguruan Tinggi yang tak banyak orang tahu di negeri ini. Karena permintaan orangtua yang menilai bahwa hal itu baik menerut mereka. Dan memang mau tidak mau itu memang benar bahwasannya orangtua tak akan mau menjerumusakan anaknya kejalan yang salah. Dan itupun berlaku padaku, kala aku harus merelakan masuk ke Perguruan Tinggi pilihan orangtuaku, alasannya sederhana saja karena aku tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan keluargaku dan akhirnya aku masuk di Universitas yang sama sekali bukan yang aku inginkan, bahkan aku tergolong sebagai orang yang sangat kecewa di terima di Universitas itu, ketika aku merasa mampu untuk bersaing di Universitas ternama di Negeri ini, Allah malah membuatku tak diterima disana, sedang orangtuaku pun tak memberikan ridhonya saat itu, bagiku itu adalah hal yang tak adil sama sekali. Dan menyalahkan adalah hal yang sangat mudah kala itu.
Dan mungkin itu juga terjadi pada mereka yang tak punya pilihan lain, menerima setiap permintaan orangtua mereka atau bahkan menerima suatu keadaan yang tak mereka harapkan. Namun, dari hal itu perlu kita ingat bahwa, Adakalanya segala sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan menurut kita buruk belum tentu buruk dimata Allah, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”  Dan setelah kita diterima di Perguruan Tinggi yang tidak kita harapkan itu harusnya kita dapat berpikir baik dan mengembalikan segalanya kepad Allah sebagai sebuah ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Karena sekeras apapun kita kecewa terhadap sesuatu yang telah lalu semua itu tak akan kembali, bahkan tak akan mengubah takdir Allah dalam hidup kita. Karena sejatinya yang akan Allah ubah dalam kehidupan kita itu adalah nasib dan bukan takdir.
Memasuki periode baru kehidupan, setiap ketidak ikhlasan yang ada dalam diri seseorang haruslah sudah terbuang dan berubah menjadi sebuah keikhlasan, setiap ketidakyakinan yang berasal dari dalam hati akan akan selalu berbuah pada ketidakpercayaan akan kemampuan diri yang telah diberikan Sang Pencipta. Maka ketidakyakinan itu haruslah berubah menjadi suatu keyakinan agar menjadi energi positif baik bagi diri maupun bagi lingkungan sekitar.

September 2013
             Hari itu menjadi hari yang paling ditunggu dalam hidupku, ya aku melangkahkan kaki kananku seraya mengucap Bismillahirrahmanirrohiim dengan diantar sepeda motor milik ayahku, aku berangkat setelah meminta izin dari ibunda tercinta menuju sebuah tempat yang akan memberikan ilmu lebih banyak dari yang aku terima selama 3 tahun belakangan ini, ya kini aku telah menjadi seorang mahasiswa, mahasiswa baru di universitas terbesar sepriangan timur, Universitas Siliwangi. Pagi itu adalah awal dari sebuah cerita baru milik Syara Salimatusyadiah, sang gadis kecil dengan mimpi besar, gadis biasa yang bermimpi luar biasa bahkan istimewa. Hari itu adalah hari pertama aku menjalani masa pengenalan lingkungan kampusku, mengenal lebih jauh apa itu mahasiswa, apa bedanya mahasiswa dengan seorang siswa. Rasa ingin tahu itu terus berkecamuk dalam fikiranku, ya walaupun masuk ke Universitas Siliwangi bukanlah bagian dari mimpi besarku tetapi setidaknya aku telah berusaha mewujudkan keinginan kedua orangtuaku agar tidak berada jauh dari mereka mengingat aku adalah seorang anak bungsu dikeluargaku.
Pagi itu aku berusaha menjadi seorang mahasiswa baru yang baik, mencoba mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan kakak panitia ataupun para pemateri baik itu dari jajaran rektor maupun pemateri umum. Namun ada hal menarik yang membuat motivasiku bertambah membuat semangatku berkobar sedemikian rupa, menjadikan diriku memiliki tujuan yang sebenarnya menjadi seorang mahasiswa yaitu ketika salah satu kakak panitia menjelaskan tema kegiatan masa orientasi yaitu “ TENTUKAN KEMUDIAN TEGUHKAN”. Beliau menjelaskan bahwa saat ini adalah saat dimana kami sebagai seorang mahasiswa menetukan jalan hidup masing-masing, mau jadi apa kami 5 tahun kedepannya ? tergantung apa yang kami lakukan saat ini, mau jadi mahasiswa biasa-biasa saja atau mau jadi mahasiwa luar biasa bahkan istimewa ? beliaupun menyuruh kami mahasiswa baru untuk menujuk posisi yang kami inginkan setelah menjadi mahasiswa ini .
 Maka hari itu dalam hati aku berkata, bahwa setelah saya menjadi seorang mahasiswa saya ingin seperti kakak panitia itu, selain cerdas, tegas juga memiliki visi hidup kedepan.  Selain memikirkan diri sendiri, namun juga memikirkan orang lain mencoba bermanfaat untuk banyak hal. Ikrarku saat itu tepatnya ditenda peserta orientasi mahasiswa dalam hati bahwa aku harus menjadi seorang aktivis, bahkan kata menjadi orang aktivis itu aku tuliskan dalam sebuah buku, bahwa aku harus menjadi seorang aktifis kampus, bukan hanya di ranah jurusan dan fakultas, namun juga Universitas.
Tekad dan mimpi itu aku pupuk setiap hari , berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku sudah berada dalam jalur yang pas dan sesuai dengan keinginan kedua orangtuaku.selain menjadi seorang aktivis akupun kembali termotivasi olah seorang kakak tingkatku yang sungguh luarbiasa, beliau adalah seorang aktivis tetapi beliau adalah salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan manajemen, beruntung saat masa orientasi beliau bisa memberikan masukan bagaimana caranya hidup sebagai seorang mahasiswa itu.
Karena kecerdasannya setelah lulus dan wisuda beliau langsung diangkat menjadi salah satu asisten dosen dijurusan manajemen. Penuh prestasi, selain cantik beliau dengan senang hati memberikan beberapa tips untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi yaitu diantaranya :
·         Belajar lebih keras dari yang lain
·         Diusahakan untuk duduk didepan saat pembelajaran
·         Aktif dikelas
·         Membuat copy-an materi dan dibaca dimanapun dan kapanpun
·         Tuliskan target memperoleh IPK minimal dan tempel di dinding kamar
·         Tidak mencontek saat ujian
·         Percaya pada kemampuan diri sendiri
·         Tidak belajar saat mepet waktu ujian atau dengan Sistem Kebut Semalam
·         Menuruti aturan dosen selagi tidak menyimpang dari norma
·         Berdoa

Tips-tips itu menjadi sebuah penyemangat baru bagiku, karena sejatinya niatanku berada ditempat ini adalah untuk belajar, menimba ilmu dan berprestasi. Menjadi ajang pembuktian bahwa aku dapat lebih berprestasi dibanding dengan kawan-kawanku yang berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri kenamaan di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar