“Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang
meruabah apa-apa yang ada pada diri mereka “ (Q.S:13:11)
Jika berbicara masalah
hidup tak akan ada habisnya, karena sejatinya roda kehidupan itu berputar
manusia kadang akan merasakan berada di atas angin kehidupan, namun setelah itu
tak jarang manusia mengalami keadaan terbalik dalam hidupnya, seperti seorang mahasiswa baru yang terlanjur
diterima di sebuah Perguruan Tinggi pilihan orangtuanya awalnya ia merasa bahwa
hidup ini tidaklah adil baginya, ia harus merelakan namun terkadang pula menyalahkan diri sendiri
karena sudah masuk ke jurusan yang bahkan
ia tak mengerti sama sekali bagaimana ia harus memulai, ia yang sejak
dulu merasa mampu untuk bersaing di Perguruan Tinggi ternama di Indonesia malah
terjebak di Perguruan Tinggi swasta yang tak terlalu dikenal banyak orang, ia
bahakan menyalahkan dirinya karena ia bisa kalah dengan teman yang bahkan tak
memiliki prestasi disekolahnya dulu, bahkan tak pernah serius saat belajar yang
setiap harinya malah tidur di kelas dan selalu meminta bantuannya saat
mengerjakan tugas sekolah. Namun itulah kehidupan, kita tidak bisa mengira
takdir apa yang akan terjadi pada diri kita bahkan dalam hal pendidikan sekalipun, ketika kita merasa
kecewa akan sesuatu hal apakah itu akan
mengubah segalanya dan mengembalikan kita pada masa lalu yang telah usai
untuk memperbaiki semuanya ? tentu saja tidak, hal itu sungguh mustahil karena
kita tidak hidup di jaman dimana Doraemon berada, yang dapat dengan mudah kita
pergi ke masa lalu dengan menggunakan pintu kemana saja miliknya, kita berada
di kehidupan nyata yang semua peristiwa terjadi dengan nya bukan di kehidupan
imajinatif belaka.
Pepatah mengatakan
bahwa nasi telah menjadi bubur, dan masa lalu tak dapat diubah kembali, yang
hanya kita bisa adalah bagaimana caranya membuat bubur itu menjadi bubur yang
enak dan nikmat untuk di santap.
Begitupula dengan seorang mahasiswa ketika ia memasuki sebuah Universitas yang
tidak sesuai dengan keinginannya bukan lantas ia menyalahkan diri dan orang
lain karena hal itu, sebab hal itu tak akan mengubah keberadaannya, yang perlu
ia lakukan adalah bagaimana ia bangkit dan menentukan arah dan tujuan hidupnya,
mau dibawa kemanakah ia saat dirinya sudah berubah status menjadi seorang
mahasiswa, menjadi mahasiswa yang kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang
saja, atau kura-kura, mahasiswa yang kerjaanya hanya kuliah rapat-kuliah rapat,
atau kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring). Begitu banyak pilihan
bagi kita sebagai seorang mahasiswa untuk menentukan sikap, mau jdi seorang
mahasiswa yang hanya peduli pada kehidupan pribadi dan akademiknya saja atau
menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi yang lainnya. Hidup adalah pilihan mau
jadi orang biasa saja atau menjadi orang yang luar biasa hebat dari berbagai
aspek, mulai dari aspek akademik, sosial, dan religius, hal itu hanya anda yang
dapat menjawabnya silahkan tentukan, kemudian teguhkan kareana sejatinya Allah
tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang benar-benar merubah
apa-apa yang ada pada dirinya, maka dari itu tentukan pilihanmu sejak dini, mau
jadi orang hebat yang memikirkan masalah besar atau menjadi seorang pecundang
yang hanya dapat menyalahkan diri dan orang lain di sekitarmu. Hal itu pun
terjadi padaku di awal aku memasuki Perguruan Tinggi kecewa dan banyak lagi
perasaan bermunculan namun saat memasuki masa orientasi di kampusku aku baru
sadar, bahwa tak peduli dimanapun kita menempuh pendidikan pada akhirnya masa
depan kita tergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini, dan aku tak mau
mengambil resiko menjadi seorang pecundang dimasa depan yang bahkan hanya akan
menjadi beban keluarga terlebih bagi
negara dan agamaku. Maka dari itu saat itu pula aku berazzam untuk
menjadi seseorang yang berhasil dan membanggakan dimasa depan kelak, untuk itu
aku harus membunuh rasa kecewa menjadi rasa syukur dalam hati dan percaya bahwa
setiap peristiwa pasti mengandung hikmah didalamnya. Maka dari itu kita
perlulah mengambil sikap untuk menghadapi masa depan, tentukan kemudian
teguhkan mau jadi apa kau dimasa yang akan datang.
Setiap peristiwa pasti akan
membuahkan hikmah dan pelajaran bagi sipenerima peristiwa itu, dan aku pun
dapat mengambil hikmah dari peristiwa masuknya aku di Universitas yang menjadi
kampusku sekarang, aku jadi mudah bersaing dalah hal belajar dengan
kawan-kawanku, menargetkan diri menjadi salah satu mahsiswa berprestasi di
kampusku, tak muluk-muluk aku menargetkan Indeks Prestasi awal semesterku sebesar
3,85, kiranya itu yang lebih baik menurutku. Diawal semester aku mengikuti
pembelajaran dengan semangat, berbebkal keyakinan dan tekad yang kuat setiap
hari bahkan setiap ada jadwal pagi aku datang lebih awal bahkan sangat awal
sekali ke kampus, jika jadwal kuliah ditentukan pukul 07.30 aku sudah berada di
kampus pukul 06.30, setiap ada jadwal pagi selalu seperti itu , dan ayahku selalu
sigap mengantarku setiap pagi. Hampir setiap hari, tanpa mengeluh.
Semangatku bertambah
ketika mendapatkan ilmu baru, bertemu dengan dosen dan kawan-kawan baru, saling
berbagi informasi, mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan para
aktivis kampus, rasa ikhlas mengubah kekecewaan itu menjadi sebuah kebahagiaan.
Tidak peduli seberapa keras orang mengejekku karena berkuliah di kampus swasta
dan masih tinggal di Tasikmalaya. Yang aku yakini saat itu adalah bahwa semua
Perguruan Tinggi itu sam asaja, bertujuan mencetak generasi yang cerdas yang
mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Tergantung bagimana
cara kita menjadi pembelajar yang baik. Ada yang berkuliah di Perguruan Tinggi
Negeri kenamaan di Indonesia tetapi jika tujuan dan niatnya kuliah hanya untuk
mengikuti tren dan sebagai sarana prestise semata itu akan sia-sia. Karena
segala sesuatu kegiatan yang kita lakukan adalah tergantung pada niat dan
tujuan awal.
Jika niat kita kuliah
untuk mencari ilmu sebagai kewajiban didunia yang harus diamalkan bahkan sampai
mati sekalipun sebagai bentuk ketaatan kepada sang pencipta, maka tak akan ada
lagi alasan untuk meninggalkan perkuliahan. Karena selalu ingat bahwa mencari
ilmu itu adalah kewajiban dan merupakan kebutuhan setiap manusia. Berbeda
dengan niatan seseorang yang kuliah hanya mengikuti tren semata, apalagi berada
pada golongan orang-orang berada, mereka akan menyepelekan perkuliahan itu
sendiri, pamit dari rumah untuk ke kampus setelah di kampus malah tidak
mengikuti perkuliahan dan hanya duduk-duduk manis di kantin. Orang yang tidak
bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu maka dapat dipastikan seseorang
tersebut akan jauh dari kata berhasil dalam kehidupannya.
Hal ini yang kemudian
aku yakini, bahwa jika kita ingin berhasil dikemudian hari, maka kita harus
menentukan kemudian meneguhkan niatan kita menjadi sebagai seorang mahasiswa.
Jika ingin menjadi seorang pejabat, pengusaha,atau guru sekalipun, maka
sejatinya kita harus bersungguh-sungguh dalam mencapainya, dengan tak lupa
melibatkan Allah dalam stiap langkah yang kita ambil.
Setelah satu semester
lamanya aku belajar menjadi seorang mahasiwa, menyerap berbagai ilmu dari para
dosen, inilah waktu dimana aku harus mengevaluasi hasil belajarku. Waktu dimana
aku dan kawan-kawan menghadapi ujian pertama sebagai seorang mahasiswa. Aku
mencoba ngamalkan tips-tips yang diberikan kakak tingkatku yang kini menjadi
dosenku. Belajar lebih giat, menentukan target, berdoa dan lain sebagainya.
Saat ujian tiba, banyak teman sekelasku berencana untuk melakukan kerja sama,
bahkan sahabat baruku pun sampai ketakutan karena mendapatkan ancaman akan
dijauhi kawan satu kelas jika tidak memberikan jawabannya pada kawan yang
lainnya. Hal ini membuatku geram, dan mencoba meyakinkan sahabatku itu bahwa
tidak akan terjadi apapun jika kita tetap berbuat jujur, biarkan mereka mencari
jawaban ujian itu dengan kemampuan mereka sendiri, tanpa harus dibantu oleh
kita. Aku katakan itu agar kami dapat foku dalam mengerjalan soal-soal itu
tanpa melakukan kecurangan, dan agar dapat mengetahui kemampuan masing-masing
diri.
Seperti yang pernah aku
kemukakan pada sebelunnya, bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, setelah
ujian selesai dan pengumuman Indeks Prestasi sememster awal, merupakan titik
balik apakah aku harus memepertahankan prestasi atau harus belajar lebih giat
lagi demi mengejar target. Dan saat pengumuman ternyata benar, aku harus lebih
keras belajar, karena aku hanya mendaptakan IP 3,76 masih jauh dari targrtku
yang 3,85. Jika saat itu ada yang bertanya, kecewakah aku dengan hasilku itu ?
maka aku jawab ya saat itu juga, rasanya geram sekali saat itu. Ketika
sahabatku mendapatkan nilai lebih baik dariku, tapi mengapa aku tidak setara
dengan mereka ? hal itu terus menjadi buah pikiranku selama berhari-hari.
Ada yang bilang
seharusnya aku bersyukur karena menjdapatkan nilai besar di tingkat pertama,
sedang yang lain jauh dibawahku. Namun hal itu tak berlaku padaku, karena prinsipku
adalah bersyukur itu jika kita mendapatkan rezeki yang cukup sedang orang lain
masih ada yag dibawahku,tetapi dalam masalah ilmu ? tak ada toleransi, aku
harus lebih baik lagi dari ini, ketiak orang lain memiliki ilmu lebih banyak
dari yang aku miliki, maka sudah sepantasnya hal itu menjadi sebuah pelecut
persaingan untuk menjadi lebih baik lagi.
Tasikmalaya, 2014
Tahun ini menjadi tahun
yang begitu mengesankan bagiku, ada beberapa pengalaman didalamnyanyang tak
dapat aku lupakan, tahun dimana tekadku untuk menjadi seorang aktivis bermula
ditahun ini. Ya saat itu himpunan mahasiswa jurusan mengadakan acara yang
didalamnya adalah pemilihan dewan angkatan, pemilihan ini penting dilakukan
guna untuk menampung aspirasi mahasiswa angkatan 2013 ini, dan masing-masing
kelas wajib mendelegasikan 2 orang perwakilan kelasnnya untuk menjadi kandidat
dewan angkatan.
Saat itu kelasku
mengirimkan 2 orang kandidat laki-laki, namun pada waktu penyeleksian kedua
orang tersebut tidak hadir, dan bebrapa kawan meminta bantuanku untuk itu, mau
tidak mau aku mengorbankan diriku untuk mengikuti seleksi tersebut, tanpa
persiapan sama sekali, saat itu aku dengan polos menjawab saja apa yang menjadi
pertanyaan para senior.
Tibalah saat dimana
pemilihan dewan angkatan itu dilakukan, dan hasilnya ? aku tak termasuk
kedalamnya, dalam hati aku berucap syukur, karena jika terpilih maka amanah
besar dapat menjadi beban bagiku. Dan memang pada dasarnya saat itu aku masih
belum mempersiapkan diri dan resiko yang akan terjadi jika aku menjadi dewan
angkatan.
Setahun
sudah berlalu saat aku bertekad dalam hatiku untuk menjadi seorang aktivis
kampus, kini aku mendapatkan kesempatan untuk bergabung bersama para aktivis
fakultasku yaitu Fakultas Ekonomi. Aku mengikuti seleksi untuk menjadi panitia
Orientasi Mahasiswa Baru tingkat Fakultas, setelah sebelumnya mengikuti ajang
dewan angkatan ditingkat jurusan dan harus gagal karena kurangnya persiapan,
namun pada seleksi panitia Orientasi Mahasiswa Baru tingkat Fakultas ini aku
lolos dan menjadi bagian keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
Ekonomi walaupun masih dalam kategori magang, namun hal itupun sudah sangat
membuat senang diriku yang sedang mencoba mengaktualisasikan diri.
Saat
menjadi aktivis magang, aku mencoba melakukan hal yang terbaik menurutku.
Melakukan tugas-tugas dengan optimal, belajar dari beberapa kakak tingkat
tentang anrti kesabaran dan kebijaksanaan, tidak merasa bahwa kita adalah
senior yang harus dihormati junior. Mengerjakan tugas dengan seang hati tanpa
ada instruksi, mendapatkan kawan, kakak dan sahabat baru. Memperkuat tali
persaudaraan anatara satu dengan yang lainnya. Saat menjadi panitia OMBUS, aku
dapat kesempatan untuk menjadi staf kesekretariatan, itu berarti tugasku adalah
untuk mendata ulang siswa baru dan membagi kelompok mereka, senang rasanya
mengetahui bahwa adik tingkat berasal dari beberapa kota diluar jawa barat.
Ya
walaupun pada awal masuk ke Unsil ada sedikit kekecewaan, namun semua berubah
menjadi sebuah kebanggaan, setelah status Unsil berubah dari Perguruan Tinggi
Swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Itu menjadi tanda bahwa Unsil setara
dengan Universitas negeri lainnya di Indonesia dalam hal status, walapun secara
akreditasi lembaga masih belum menyamai yang lain, namun itu menjadi sebuah
kebanggan tersendiri bagiku. Benar adanya bahwa orang tua tidak mungkin
membiarkan hal buruk terjadi pada anaknya, dan buktinya pilihan orangtuaku tak
pernah salah.
Kembali
ke masa OMBUS, aku mengerjakan segala tugasku dengan optimal dan bahakan selelu
datang lebih pagi dibanding panitia yang lain, sampai salah satu kakak
tingkatku berkata jangan terlalu pagi jika mengerjakan tugas, beri luang untuk
yang lain bertugas agar kamu tidak kelelahan sendiri nantinya, dan agar yang
lain mengerti akan tanggung jawab mereka disini. Senyuman menjadi jawaban atas
perkataan kakak tersebut. Aku melakukan semuanya bukan demi mendapatakan
perhatian siapaun, bukan untuk agar lebih diutakan dan terlihat rajin oleh
kakak-kakak tingkatku. Namun aku melakukan semua tugas ini karena aku ikhlas
dan senang melakukannya.
Sampai
tibalah masa OMBUS itu sendiri, aku bertugas menjadi panitia bagian
kesekertariatan, ini artinya aku dan kawan kawanku hanya akan berinteraksi
dengan kertas, laptop dan printer, dengan penuh kesabran kami melakukannya demi
kelancaran acara. Ya sesungguhnya menjadi seorang aktivis bukanlah sekedar agar
dikenal oleh adik tingkat dan dianggap keren, bahkan lebih dari itu. Menjadi
aktivis itu adalh sebuah pengabdian dan perjuangan, menjadi panutan bagi setiap
umat dari berbagai aspek. Baik itu akademik, kepemimpinan, kesabaran dan lain
sebagainya.
Jika
menganggap bahwa menjadi aktivis itu hanya sekedar mengadakan acara dan eksis
dimata adik-adik tingkat saja, itu salah besar . sekali lagi aku katakan jika
menganggap aktivis itu hanya \sekedar mengadakan acara dan eksis dimata
adik-adik tingkat dan mahasiswa yang lain, sungguh salah besar, mengapa ?
karena jika ingin eksisi tak perlu jadi aktivis, dan jika ingin mengadakan acara
yang wah megahnya, tak perlu jadi seorang aktivis, cukup jadi selebritis atau
jadi event organizer saja.
Setiap
prosesnya aku lalui dengan kesungguhan hati dan keikhlasan, banyak hal yang aku
dapat dari masa magang ini yaitu pertemanan, persabahabatan, ilmu dan
kenyamanan berbagi. Saling memahami karakter satu dengan lainnya, menjadikan
diri ini paham bahwa kita tidak boleh egois dalam mengambil keputusan, tak
boleh egois dalam bersikap. Selain OMBUS banyak lagi kegiatan yang aku ikuti
saat masih menjadi aktivis magang. Dan semua itu meyakinkan diriku bahwa aku
dapat menjadi seorang aktivis yang sesungguhnya, benar-benar menjadi aktivis
yang mengabdi dan membela aspirasi rakyatnya, bukan hanya sekedar menjadi
aktivis magang nan polos. Akan tetapi rasa senang itu tak berlangsung lama
karena setelah proses magang itu impianku untuk menjadi bagian aktivis fakultas
yang sesungguhnya harus sirna demi menuruti permintaan ibunda untuk berprestasi
dalam bidang akademik terlebih dahulu sebelum memikirkan organisasi, maka
niatku untuk menjadi seorang aktifis harus aku kubur dalam-dalam.
Kekhawatiran
Ibundaku pun sangat beralasan menurutku, karena beliau takut jika nanti aku
terlalu fokus pada organisasi maka aku akan lupa kewajibanku sebagai seorang
anak yang mendapatkan amanah dari keluarga terkhusus kedua orangtuaku. Maka ku\coba
bicara dan memahamkan bahwa sesungguhnya aku tak akan melupakan kewajibanku
akan hal akademik, namun mereka tetap tidak percaya sampai aku memberikan bukti
yang nyata pada mereka. Dan mau tidak mau aku harus kembali menuruti permintaan
keluarga terutama permintaan ibunda agar aku lebih fokus pada akademik saja.
Wah sudah lama ga posting, semangat mbaa ❤️
BalasHapusIya mbak, mudah-mudahan bisa lanjut lagi deh hehe
HapusDinanti pengalaman selanjutnya yang bisa jadi sangat spesial dalam kurun waktu 3-4 tahun ini 😊
BalasHapusSiap ka 😊
Hapussayang blognya ini udah lama gak posting
BalasHapusPengalaman yg bisa dipetik pelajarannya, benar mbak hasil gk pernah mengkhianati proses :)
BalasHapus