Senin, 09 Oktober 2017

TENTUKAN, KEMUDIAN TEGUHKAN


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang meruabah apa-apa yang ada pada diri mereka “ (Q.S:13:11)

Jika berbicara masalah hidup tak akan ada habisnya, karena sejatinya roda kehidupan itu berputar manusia kadang akan merasakan berada di atas angin kehidupan, namun setelah itu tak jarang manusia mengalami keadaan terbalik dalam hidupnya,  seperti seorang mahasiswa baru yang terlanjur diterima di sebuah Perguruan Tinggi pilihan orangtuanya awalnya ia merasa bahwa hidup ini tidaklah adil baginya, ia harus merelakan  namun terkadang pula menyalahkan diri sendiri karena sudah masuk ke jurusan yang bahkan  ia tak mengerti sama sekali bagaimana ia harus memulai, ia yang sejak dulu merasa mampu untuk bersaing di Perguruan Tinggi ternama di Indonesia malah terjebak di Perguruan Tinggi swasta yang tak terlalu dikenal banyak orang, ia bahakan menyalahkan dirinya karena ia bisa kalah dengan teman yang bahkan tak memiliki prestasi disekolahnya dulu, bahkan tak pernah serius saat belajar yang setiap harinya malah tidur di kelas dan selalu meminta bantuannya saat mengerjakan tugas sekolah. Namun itulah kehidupan, kita tidak bisa mengira takdir apa yang akan terjadi pada diri kita bahkan dalam  hal pendidikan sekalipun, ketika kita merasa kecewa akan sesuatu hal apakah itu akan  mengubah segalanya dan mengembalikan kita pada masa lalu yang telah usai untuk memperbaiki semuanya ? tentu saja tidak, hal itu sungguh mustahil karena kita tidak hidup di jaman dimana Doraemon berada, yang dapat dengan mudah kita pergi ke masa lalu dengan menggunakan pintu kemana saja miliknya, kita berada di kehidupan nyata yang semua peristiwa terjadi dengan nya bukan di kehidupan imajinatif belaka.
Pepatah mengatakan bahwa nasi telah menjadi bubur, dan masa lalu tak dapat diubah kembali, yang hanya kita bisa adalah bagaimana caranya membuat bubur itu menjadi bubur yang enak dan  nikmat untuk di santap. Begitupula dengan seorang mahasiswa ketika ia memasuki sebuah Universitas yang tidak sesuai dengan keinginannya bukan lantas ia menyalahkan diri dan orang lain karena hal itu, sebab hal itu tak akan mengubah keberadaannya, yang perlu ia lakukan adalah bagaimana ia bangkit dan menentukan arah dan tujuan hidupnya, mau dibawa kemanakah ia saat dirinya sudah berubah status menjadi seorang mahasiswa, menjadi mahasiswa yang kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang saja, atau kura-kura, mahasiswa yang kerjaanya hanya kuliah rapat-kuliah rapat, atau kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring). Begitu banyak pilihan bagi kita sebagai seorang mahasiswa untuk menentukan sikap, mau jdi seorang mahasiswa yang hanya peduli pada kehidupan pribadi dan akademiknya saja atau menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi yang lainnya. Hidup adalah pilihan mau jadi orang biasa saja atau menjadi orang yang luar biasa hebat dari berbagai aspek, mulai dari aspek akademik, sosial, dan religius, hal itu hanya anda yang dapat menjawabnya silahkan tentukan, kemudian teguhkan kareana sejatinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang benar-benar merubah apa-apa yang ada pada dirinya, maka dari itu tentukan pilihanmu sejak dini, mau jadi orang hebat yang memikirkan masalah besar atau menjadi seorang pecundang yang hanya dapat menyalahkan diri dan orang lain di sekitarmu. Hal itu pun terjadi padaku di awal aku memasuki Perguruan Tinggi kecewa dan banyak lagi perasaan bermunculan namun saat memasuki masa orientasi di kampusku aku baru sadar, bahwa tak peduli dimanapun kita menempuh pendidikan pada akhirnya masa depan kita tergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini, dan aku tak mau mengambil resiko menjadi seorang pecundang dimasa depan yang bahkan hanya akan menjadi beban keluarga terlebih bagi  negara dan agamaku. Maka dari itu saat itu pula aku berazzam untuk menjadi seseorang yang berhasil dan membanggakan dimasa depan kelak, untuk itu aku harus membunuh rasa kecewa menjadi rasa syukur dalam hati dan percaya bahwa setiap peristiwa pasti mengandung hikmah didalamnya. Maka dari itu kita perlulah mengambil sikap untuk menghadapi masa depan, tentukan kemudian teguhkan mau jadi apa kau dimasa yang akan datang.
Setiap peristiwa pasti akan membuahkan hikmah dan pelajaran bagi sipenerima peristiwa itu, dan aku pun dapat mengambil hikmah dari peristiwa masuknya aku di Universitas yang menjadi kampusku sekarang, aku jadi mudah bersaing dalah hal belajar dengan kawan-kawanku, menargetkan diri menjadi salah satu mahsiswa berprestasi di kampusku, tak muluk-muluk aku menargetkan Indeks Prestasi awal semesterku sebesar 3,85, kiranya itu yang lebih baik menurutku. Diawal semester aku mengikuti pembelajaran dengan semangat, berbebkal keyakinan dan tekad yang kuat setiap hari bahkan setiap ada jadwal pagi aku datang lebih awal bahkan sangat awal sekali ke kampus, jika jadwal kuliah ditentukan pukul 07.30 aku sudah berada di kampus pukul 06.30, setiap ada jadwal pagi selalu seperti itu , dan ayahku selalu sigap mengantarku setiap pagi. Hampir setiap hari, tanpa mengeluh.
Semangatku bertambah ketika mendapatkan ilmu baru, bertemu dengan dosen dan kawan-kawan baru, saling berbagi informasi, mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan para aktivis kampus, rasa ikhlas mengubah kekecewaan itu menjadi sebuah kebahagiaan. Tidak peduli seberapa keras orang mengejekku karena berkuliah di kampus swasta dan masih tinggal di Tasikmalaya. Yang aku yakini saat itu adalah bahwa semua Perguruan Tinggi itu sam asaja, bertujuan mencetak generasi yang cerdas yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. Tergantung bagimana cara kita menjadi pembelajar yang baik. Ada yang berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri kenamaan di Indonesia tetapi jika tujuan dan niatnya kuliah hanya untuk mengikuti tren dan sebagai sarana prestise semata itu akan sia-sia. Karena segala sesuatu kegiatan yang kita lakukan adalah tergantung pada niat dan tujuan awal.
Jika niat kita kuliah untuk mencari ilmu sebagai kewajiban didunia yang harus diamalkan bahkan sampai mati sekalipun sebagai bentuk ketaatan kepada sang pencipta, maka tak akan ada lagi alasan untuk meninggalkan perkuliahan. Karena selalu ingat bahwa mencari ilmu itu adalah kewajiban dan merupakan kebutuhan setiap manusia. Berbeda dengan niatan seseorang yang kuliah hanya mengikuti tren semata, apalagi berada pada golongan orang-orang berada, mereka akan menyepelekan perkuliahan itu sendiri, pamit dari rumah untuk ke kampus setelah di kampus malah tidak mengikuti perkuliahan dan hanya duduk-duduk manis di kantin. Orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu maka dapat dipastikan seseorang tersebut akan jauh dari kata berhasil dalam kehidupannya.
Hal ini yang kemudian aku yakini, bahwa jika kita ingin berhasil dikemudian hari, maka kita harus menentukan kemudian meneguhkan niatan kita menjadi sebagai seorang mahasiswa. Jika ingin menjadi seorang pejabat, pengusaha,atau guru sekalipun, maka sejatinya kita harus bersungguh-sungguh dalam mencapainya, dengan tak lupa melibatkan Allah dalam stiap langkah yang kita ambil.
Setelah satu semester lamanya aku belajar menjadi seorang mahasiwa, menyerap berbagai ilmu dari para dosen, inilah waktu dimana aku harus mengevaluasi hasil belajarku. Waktu dimana aku dan kawan-kawan menghadapi ujian pertama sebagai seorang mahasiswa. Aku mencoba ngamalkan tips-tips yang diberikan kakak tingkatku yang kini menjadi dosenku. Belajar lebih giat, menentukan target, berdoa dan lain sebagainya. Saat ujian tiba, banyak teman sekelasku berencana untuk melakukan kerja sama, bahkan sahabat baruku pun sampai ketakutan karena mendapatkan ancaman akan dijauhi kawan satu kelas jika tidak memberikan jawabannya pada kawan yang lainnya. Hal ini membuatku geram, dan mencoba meyakinkan sahabatku itu bahwa tidak akan terjadi apapun jika kita tetap berbuat jujur, biarkan mereka mencari jawaban ujian itu dengan kemampuan mereka sendiri, tanpa harus dibantu oleh kita. Aku katakan itu agar kami dapat foku dalam mengerjalan soal-soal itu tanpa melakukan kecurangan, dan agar dapat mengetahui kemampuan masing-masing diri.
Seperti yang pernah aku kemukakan pada sebelunnya, bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, setelah ujian selesai dan pengumuman Indeks Prestasi sememster awal, merupakan titik balik apakah aku harus memepertahankan prestasi atau harus belajar lebih giat lagi demi mengejar target. Dan saat pengumuman ternyata benar, aku harus lebih keras belajar, karena aku hanya mendaptakan IP 3,76 masih jauh dari targrtku yang 3,85. Jika saat itu ada yang bertanya, kecewakah aku dengan hasilku itu ? maka aku jawab ya saat itu juga, rasanya geram sekali saat itu. Ketika sahabatku mendapatkan nilai lebih baik dariku, tapi mengapa aku tidak setara dengan mereka ? hal itu terus menjadi buah pikiranku selama berhari-hari.
Ada yang bilang seharusnya aku bersyukur karena menjdapatkan nilai besar di tingkat pertama, sedang yang lain jauh dibawahku. Namun hal itu tak berlaku padaku, karena prinsipku adalah bersyukur itu jika kita mendapatkan rezeki yang cukup sedang orang lain masih ada yag dibawahku,tetapi dalam masalah ilmu ? tak ada toleransi, aku harus lebih baik lagi dari ini, ketiak orang lain memiliki ilmu lebih banyak dari yang aku miliki, maka sudah sepantasnya hal itu menjadi sebuah pelecut persaingan untuk menjadi lebih baik lagi.
Tasikmalaya, 2014
Tahun ini menjadi tahun yang begitu mengesankan bagiku, ada beberapa pengalaman didalamnyanyang tak dapat aku lupakan, tahun dimana tekadku untuk menjadi seorang aktivis bermula ditahun ini. Ya saat itu himpunan mahasiswa jurusan mengadakan acara yang didalamnya adalah pemilihan dewan angkatan, pemilihan ini penting dilakukan guna untuk menampung aspirasi mahasiswa angkatan 2013 ini, dan masing-masing kelas wajib mendelegasikan 2 orang perwakilan kelasnnya untuk menjadi kandidat dewan angkatan.
Saat itu kelasku mengirimkan 2 orang kandidat laki-laki, namun pada waktu penyeleksian kedua orang tersebut tidak hadir, dan bebrapa kawan meminta bantuanku untuk itu, mau tidak mau aku mengorbankan diriku untuk mengikuti seleksi tersebut, tanpa persiapan sama sekali, saat itu aku dengan polos menjawab saja apa yang menjadi pertanyaan para senior.
Tibalah saat dimana pemilihan dewan angkatan itu dilakukan, dan hasilnya ? aku tak termasuk kedalamnya, dalam hati aku berucap syukur, karena jika terpilih maka amanah besar dapat menjadi beban bagiku. Dan memang pada dasarnya saat itu aku masih belum mempersiapkan diri dan resiko yang akan terjadi jika aku menjadi dewan angkatan.
 Setahun sudah berlalu saat aku bertekad dalam hatiku untuk menjadi seorang aktivis kampus, kini aku mendapatkan kesempatan untuk bergabung bersama para aktivis fakultasku yaitu Fakultas Ekonomi. Aku mengikuti seleksi untuk menjadi panitia Orientasi Mahasiswa Baru tingkat Fakultas, setelah sebelumnya mengikuti ajang dewan angkatan ditingkat jurusan dan harus gagal karena kurangnya persiapan, namun pada seleksi panitia Orientasi Mahasiswa Baru tingkat Fakultas ini aku lolos dan menjadi bagian keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi walaupun masih dalam kategori magang, namun hal itupun sudah sangat membuat senang diriku yang sedang mencoba mengaktualisasikan diri.
Saat menjadi aktivis magang, aku mencoba melakukan hal yang terbaik menurutku. Melakukan tugas-tugas dengan optimal, belajar dari beberapa kakak tingkat tentang anrti kesabaran dan kebijaksanaan, tidak merasa bahwa kita adalah senior yang harus dihormati junior. Mengerjakan tugas dengan seang hati tanpa ada instruksi, mendapatkan kawan, kakak dan sahabat baru. Memperkuat tali persaudaraan anatara satu dengan yang lainnya. Saat menjadi panitia OMBUS, aku dapat kesempatan untuk menjadi staf kesekretariatan, itu berarti tugasku adalah untuk mendata ulang siswa baru dan membagi kelompok mereka, senang rasanya mengetahui bahwa adik tingkat berasal dari beberapa kota diluar jawa barat.
Ya walaupun pada awal masuk ke Unsil ada sedikit kekecewaan, namun semua berubah menjadi sebuah kebanggaan, setelah status Unsil berubah dari Perguruan Tinggi Swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Itu menjadi tanda bahwa Unsil setara dengan Universitas negeri lainnya di Indonesia dalam hal status, walapun secara akreditasi lembaga masih belum menyamai yang lain, namun itu menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagiku. Benar adanya bahwa orang tua tidak mungkin membiarkan hal buruk terjadi pada anaknya, dan buktinya pilihan orangtuaku tak pernah salah.
Kembali ke masa OMBUS, aku mengerjakan segala tugasku dengan optimal dan bahakan selelu datang lebih pagi dibanding panitia yang lain, sampai salah satu kakak tingkatku berkata jangan terlalu pagi jika mengerjakan tugas, beri luang untuk yang lain bertugas agar kamu tidak kelelahan sendiri nantinya, dan agar yang lain mengerti akan tanggung jawab mereka disini. Senyuman menjadi jawaban atas perkataan kakak tersebut. Aku melakukan semuanya bukan demi mendapatakan perhatian siapaun, bukan untuk agar lebih diutakan dan terlihat rajin oleh kakak-kakak tingkatku. Namun aku melakukan semua tugas ini karena aku ikhlas dan senang melakukannya.
Sampai tibalah masa OMBUS itu sendiri, aku bertugas menjadi panitia bagian kesekertariatan, ini artinya aku dan kawan kawanku hanya akan berinteraksi dengan kertas, laptop dan printer, dengan penuh kesabran kami melakukannya demi kelancaran acara. Ya sesungguhnya menjadi seorang aktivis bukanlah sekedar agar dikenal oleh adik tingkat dan dianggap keren, bahkan lebih dari itu. Menjadi aktivis itu adalh sebuah pengabdian dan perjuangan, menjadi panutan bagi setiap umat dari berbagai aspek. Baik itu akademik, kepemimpinan, kesabaran dan lain sebagainya.
Jika menganggap bahwa menjadi aktivis itu hanya sekedar mengadakan acara dan eksis dimata adik-adik tingkat saja, itu salah besar . sekali lagi aku katakan jika menganggap aktivis itu hanya \sekedar mengadakan acara dan eksis dimata adik-adik tingkat dan mahasiswa yang lain, sungguh salah besar, mengapa ? karena jika ingin eksisi tak perlu jadi aktivis, dan jika ingin mengadakan acara yang wah megahnya, tak perlu jadi seorang aktivis, cukup jadi selebritis atau jadi event organizer saja.
Setiap prosesnya aku lalui dengan kesungguhan hati dan keikhlasan, banyak hal yang aku dapat dari masa magang ini yaitu pertemanan, persabahabatan, ilmu dan kenyamanan berbagi. Saling memahami karakter satu dengan lainnya, menjadikan diri ini paham bahwa kita tidak boleh egois dalam mengambil keputusan, tak boleh egois dalam bersikap. Selain OMBUS banyak lagi kegiatan yang aku ikuti saat masih menjadi aktivis magang. Dan semua itu meyakinkan diriku bahwa aku dapat menjadi seorang aktivis yang sesungguhnya, benar-benar menjadi aktivis yang mengabdi dan membela aspirasi rakyatnya, bukan hanya sekedar menjadi aktivis magang nan polos. Akan tetapi rasa senang itu tak berlangsung lama karena setelah proses magang itu impianku untuk menjadi bagian aktivis fakultas yang sesungguhnya harus sirna demi menuruti permintaan ibunda untuk berprestasi dalam bidang akademik terlebih dahulu sebelum memikirkan organisasi, maka niatku untuk menjadi seorang aktifis harus aku kubur dalam-dalam.

Kekhawatiran Ibundaku pun sangat beralasan menurutku, karena beliau takut jika nanti aku terlalu fokus pada organisasi maka aku akan lupa kewajibanku sebagai seorang anak yang mendapatkan amanah dari keluarga terkhusus kedua orangtuaku. Maka ku\coba bicara dan memahamkan bahwa sesungguhnya aku tak akan melupakan kewajibanku akan hal akademik, namun mereka tetap tidak percaya sampai aku memberikan bukti yang nyata pada mereka. Dan mau tidak mau aku harus kembali menuruti permintaan keluarga terutama permintaan ibunda agar aku lebih fokus pada akademik saja.

6 komentar:

  1. Wah sudah lama ga posting, semangat mbaa ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, mudah-mudahan bisa lanjut lagi deh hehe

      Hapus
  2. Dinanti pengalaman selanjutnya yang bisa jadi sangat spesial dalam kurun waktu 3-4 tahun ini 😊

    BalasHapus
  3. sayang blognya ini udah lama gak posting

    BalasHapus
  4. Pengalaman yg bisa dipetik pelajarannya, benar mbak hasil gk pernah mengkhianati proses :)

    BalasHapus