Selasa, 29 Oktober 2019

MENUDUH TANPA BUKTI ITU BERBAHAYA



Beberapa pekan yang lalu sempat saya menonton sebuah drama korea yang berjudul ‘Class of Lies’. Sebuah drama yang menceritakan tentang kasus pembuhun siswi SMA ternama di korea. Tersangka kasus pembunuhan itu adalah siswa SMA yang sama. Ia dituduh membunuh temannya karena saat kejadian itu siswa tersebut berada di TKP. Namun pada saat penyelidikan sang siswa bersikeras tidak mengakui kejahatannya. Sampai suatu waktu setelah persidangan pertama sang siswa melakukan aksi bunuh diri dengan terjun dari atap rumah sakit. Hal itu sontak membuat persidangan kasus pembunuhan itu harus terhenti. Apakah dengan percobaan bunuh dirinya sang siswa membuat pengacara dan para jaksa penuntut umum itu percaya bahwa siswa itu mampu membuhun kawannya atau ada sebuah konspirasi dibalik semua itu?

Terkadang apa yang kita lihat belum tentu itu benar-benar terjadi. Pasalnya tersangka kasus pembunuhan siswi itu terbukti tidak bersalah setelah pihak pengacara bekerja keras mencari bukti terkongkret yang bisa di ajukan ke pengadilan. Bayangkan jika si pengacara kasus itu tidak mencari bukti dengan benar. Bisa jadi si siswa itu mendekam dipenjara selama puluhan tahun untuk sebuah kejahatan yang bahkan tidak dia lakukan. Masa depannya akan berat dan mungkin ia pun akan berakhir pada sebuah percobaan bunuh diri kembali.

Walaupun itu hanya sebuah drama, namun dapat kita ambil sebuah hikmah dari kisah tersebut bahwa kita sebagai manusia tidak bisa langsung menduduh tanpa bukti nyata. Tuduhan tanpa bukti bisa menjadi sebuah senjata mematikan bagi ia yang tertuduh. Masih hangat dalam ingatan kita dengan kasus Sulli ex personel F(X). Ya dia melakukan bunuh diri setelah kasus pembullyan yang ia terima. Bullying yang gadis itu terima berawal dari tuduhan-tuduhan tak berdasar yang dilakukan segelintir orang. Tuduhan-tuduhan keji itu terus berdatangan silih berganti bagai badai di lautan lepas. Akhir dari tuduhan itu sudah kita semua ketahui, yaitu dengan tewasnya sang idol korea selatan itu.

Terkadang manusia senang sekali berasumsi ini dan itu tentang manusia lainnya. Misal dalam sebuah keluarga selalu saja ada beberapa orang  yang memiliki asumsi terhadap anggota keluarga lainnya. Entah itu baik atau buruk. Pada dasarnya berasumsi itu baik, namun jika asumsi itu dibiarkan berlarut tanpa adanya bukti nyata maka bisa jadi sebuah kebiasaan buruk bahkan bisa berakibat fatal bagi orang yang diberikan asumsi tersebut. Dalam hal ini sebut saja kasus perceraian Song-song couple. Sebelum berita perceraian mereka beredar luas telah banyak asumsi yang ditujukan pada pasangan yang baru menikah selama kurang lebih dua tahun ini. Ada yang mengatakan jika pernikahan kedua idol ini hanya settingan belaka, adapula yang mengatakan jika perceraian sang idol terjadi karena adanya orang ketiga bahkan keempat dari keduanya. Padahal boleh jadi awalnya kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja, namun karena adanya asumsi ini dan itu yang ditujukan pada keduanya terjadilah hal seperti ini.

Beberapa tahun lalu kita ketahui gosip yang beredar bahwa unnie cantik Yoona SNSD memiliki hubungan dengan Oppa ganteng Choi Siwon. Padahal saat itu Choi Siwon dengan memiliki hubungan dengan Stella Kim. Gosip itu terus merebak di seantero korea selatan. Mengakibatkan berakhirnya hubungan Siwon dan Stella. Benarkah penyebab berakhirnya hubungan mereka adalah karena Yoona berada diantara keduanya? Namun ternyata lagi-lagi tuduhan itu tak beradasar, pasalanya hubungan Yoona dan Siwon hanyalah sebatas kawan baik satu manajemen.

Dari paparan diatas perlu kita ketahui bersama bahwa menuduh tanpa bukti adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Dalam islam sendiri dikatakan jika kita menuduh seseorang tanpa buktinya bisa berakhir pada fitnah belaka. Maka sebelum kita memutuskan untuk menuduh seseorang melakukan ini dan itu, alangkah baiknya kita melakukan konfirmasi atau tabayun terlebih dahulu. Boleh jadi tuduhan yang kita layangkan adalah sebatas tuduhan palsu karena sejatinya terdapat kedengkian dalam hati kita sehingga dapat merugikan pihak yang tertuduh. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, lantas bagaimana jika kita justru malah merugikan manusia lain akibat tuduhan tanpa bukti yang kita lakukan. Tentu itu akan sangat buruk bukan?

@syara_salima

Tidak ada komentar:

Posting Komentar