Minggu, 01 Oktober 2017

AMBISI, IMPIAN DAN HARAPAN

Pada dasarnya manusia memiliki impian dan harapan masing-masing, karena dengan impian dan harapan menjadikan diri manusia itu lebih hidup dan lebih berwarna, selain itu pula menjadikan diri terasa mempunyai masa depan yang lebih cerah. Harapan dan impian itu ada agar manusia itu dapat lebih berkhusnudzon kepada Sang Pencipta. Tetapi terkadang manusia itu lupa melibatkan Allah di setiap mimpi dan harapannya. Dan hal itu pernah aku alami sendiri. Ketika kita merasa bahwa setiap mimpi itu dapat dicapai hanya dengan kerja keras dan berada pada tingkat keyakinan seseorang pada dirinya sendiri.
Saat itu adalah hari dimana aku harus masuk sekolah kemabli dan berada di kelas 12 SMA negeri di Tasikmalaya, dia tahun pelajaran 2012/2013 ini adalah tahun penentu apakan aku dan kawan-kawan akan berhasil lulus ditahap Ujiana Nasional dan mengakhiri status kami menjadi seorang siswa SMA atau harus menelan pahitnya pil kegagalan belajar selama 3 tahun lamamnya. Tahun itu menjadi tahun ekstra dalam belajar bagi aku dan kawa-kawan sekelas. Segala jenis pembelajaran kami lakukan mulai dari pemadatan bersama guru-guru pengampu pelajaran maupun belajar kelompok. Membahas soal-soal yang diprediksi akan keluar dalam Ujian Nasional mendatang.
Saat itu kami harus belajar lebih keras dari sebelumnya, segala bentuk kegiatan diluar pembelajaran kami hentikan, saat itu diawal kelas 12 aku masih menjabat sebagai ketua OSIS 1 atau lebih lazim di panggil wakil ketua OSIS, amanah yang berat itu harus segera di selesaikan mengingat bahwa aku sudah memasuki tahap akhir menjadi seorang siswi SMA. Maka dari itu, setelah segala program selesai, aku dan kawan-kawan lansung melakuakn serah terima jabatan yang sebelumnya telah dilakukan pemilihan ketua OSIS baru, hal itu diikuti oleh organisasi ekstrakulikuler yang lainnya. Setelah serah terima jabatan selesai bukan berarti kami bersantai ria karena tantangan selanjutnya telah menunggu yakni pintu gerbang menuju masa depan perlahan terbuka , semakin hari pintunya terbuka lebar dan semakin lebar saja.
Pembelajaran harus semakin dipadatkan saja dan waktu untuk bersenang-senang sudah tak ada lagi. Hal yang paling diingat dan akan terus diingat adalah ketika aku dan kawan-kawan duduk bersama didepan koperasi sekolah dengan berlembar-lembar soal Ujian Nasional tahun 2012 dan alat tulis ditangan. Salah satu kawan aku yang memiliki lebih banyak pemahaman di pelajaran fisika  tampil sebagai tutor dan dengan sabar mengajarkan kami menjelaskan pada kami hal yang tidak kami pahami. Hal seperti ini terus dilakukan guna memberikan pemahaman menghadapi soal-soal nanti.
Saat itu fokus kami hanya tentang Ujian Nasioanal semata, tanpa kami sadari bahwa periode pengenalan Universitas dan Sekolah Tinggi sudah mulai berjalan. Tepatnya pada bulan Desember 2012 sampai Januari 2013 adalah waktu terpadat sekolah kami kedatangan kakak-kakak mahasiswa, mereka mulai memperkenalkan kampus tempat mereka menimba ilmu, menjadi seorang mahasiswa. Pikiran yang terlintas pada kami masa itu adlah menjadi seorang mahasiswa itu bebas berekspresi, bebas tugas, bebas segala-galanya. Kami pun mulai mempersiapkan diri untuk memasuki periode baru pembelajaran yaitu mempersiapkan pendaftan masuk ke Universitas kenamaan di Indonesia. Begitupun yang aku lakukan kala itu, aku mulai sibuk memilih Universitas dan Jurusan mana yang akan aku ambil, berbagai macam informasi aku cari mengenai Universitas-universita yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke rasanya sudah aku cari masa itu. Namun tetap yang menjadi target aku pada universitas yang ada di Bandung, yaitu Universitas Padjadjaran dan Universitas Pendidikan Indonesia. Alasan mengapa aku memilih kedua Universitas itu untuk merajut mimpi dan harapan adalah karena reputasi Universitas yang tak terbantahkan lagi dan karena masih berada di tanah sunda. Pendaftran pun dilakukan di bulan Januari 2013 dengan bantuan guru bimbingan konseling.
Saat memilih jurusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, aku mencoba berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarga terutama ibunda. Aku menjelaskan pada ibu bahwa aku berminat untuk melanjutkan pendidikan dengan memilih jurusan Hubungan Internasional jika diterima di Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Pendidikan Kimia jika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), namun hal yang membuatku sedikit kecewa adalah tidak satupun dari dua jurusan itu yang diinginkan ibunda untuk menjadi masa depanku, beliau lebih menginginkan jika aku mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar disingkat PGSD di UPI kampus Tasikmalaya, atau Pendidikan Matematika di Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Mengingat bahwa aku adalah anak bungsu dikeluargaku ibu tak ingin aku terlalu jauh darinya. Hal itu tentunya tak masuk dalam daftar rencanaku kala itu, aku adalah gadis kecil dengan rencana besar, menginginkan keluar dari zona nyaman, menginginkan memiliki pengalaman hidup merantau di belahan bumi yang lain, tidak hanya berada di Tasikmalaya.
Saran tinggallah saran, meskipun tidak sepenuhnya diizinkan mendaftar masuk ke jurusan yang aku inginkan, aku tetap saja mendaftar namun hanya jurusan Pendidikan Kimia saja yang aku pilih, karena Hubungan Internasional dirasa lebih berat saingannya dibanding dengan Pendidikan Kimia. Alasan mengapa aku memilih jurusan itu, dikarenakan pertama aku menyukai mata pelajaran itu pada masa SMA, dan kedua aku ingin menang dalam persaingan dalam hal belajar antara aku dan saudara sepupuku yang memang tak pernah terpisahkan sejak masa TK sampai SMA, walaupun persaingan itu hanya aku saja yang membuatnya, karena saudaraku itu tidak pernah merasa bersaing dengan diriku. Ya dia mendaftar masuk ke jurusan Kimia Murni di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pendaftran sudah dilakukan, tinggal menunggu hasil untuk mengetahui apakan aku masih akan berada dikota yng sama dengan saudaraku atau tidak. Ambisiku untuk mengalahkannya dalah hal belajar sangat tinggi, karena itu aku harus lebih baik atau paling tidak setara dengannya dalam hal keilmuan. Tak sabar rasanya menunggu hasil , kami daftar melalui jalur prestasi dan hal yang diperhit ngkan panitia penerimaan mahasiswa kala itu adalah berdasarkan nilai raport masing-masing siswa. Selain bersama saudaraku, aku pun harus bersaing bersama teman-teman sekelasku dan teman-teman satu sekolah, ada hal yang tak akan aku lupakan kembali yaitui saat menunggu hasil, aku dan kawan-kawan sekelasku yang perempuan menuliskan harapan dam impian kami masing-masing salah satunya harapan untuk dapat diterima di Universitas impian kami dalam sebuah kertas, dan kertas itu diselipkan salah satu kawanku dalam Al-Quran miliknya, menurutnya agar lebih mudah didoakan, mungkin bagi sebagian orang hal itu buang-buang waktu dan perilaku konyol, tapi bagi kami kala itu adalah bagian dari doa atas harapan dan impian kami.
Sambil menunggu pengumuman hasil berikut menunggu jadwal Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional kala itu waktuku bersama kawan-kawan lebih banyak lagi dihabiskan untuk belajar dan berdiskusi. Bulan Maret pun tiba, ini adalah waktunya menhadapi ujian. Ujian Nasional sudah di depan mata. Segala bentuk pembelajaran sudah dilakukan, dan kami sudah siap menghadapi perang bersama soal-soal itu. Kami siap berempur menghadapi 20 paket soal ujian, ini akrtinya dalam satu kelas masing-masing siswa mendapat 1 paket soal, dan tidak ada yang sama maka akan sedikit sekali kecurangan dilakukan siswa dalam ujian ini. Aku adalah salah satu siswa yang sangat bersyukur dengan adanya 20 paket soal ini, hal ini akan membuktikan kemampuan masing-masing siswa, tanpa adanya kecurangan dalam praktik ujian ini. Karena aku yakin bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, proses belajar dan berdiskusi selama beberapa bulan ini akan membuahkan hasil yang manis, itu pasti adanya.Ujian pun dijalankan dengan penuh khidmat, tanpa gaduh dan tanpa kecurangan. Periode ujian ini berlalu selama 1 minggu saja, setelahnya kami terbebas dari beban belajar lebih keras dari biasanya.
Selesai masa ujian, waktu kami habiskan untuk bermain dan bersenang-senang ala siswa SMA, ya apalagi jika bukan menonton film bersama di kelas, dan banyak lagi. Pada dasarnya kami kala itu tidak sepenuhnya bebas karena kami masih harus deg-degan dengan hasil ujian dan hasil SNMPTN yang tak kunjung datang. Hari demi hari kami jalani dengan perasaan cemas. Namun aku merasa bahwa aku akan lulus dalam seleksi SNMPTN maupun dalam Ujian Nasional ini, karena aku yakin bahwa aku memiliki kemampuan untuk itu. Dan memang pada dasarnya anganku menginginkan aku untuk lolos, karena jika tidak lolos maka ibundaku tak mengizinkan kembali untuk mendaftar menjadi mahasiswa di luar kota Tasikmalaya. Hal itu yang membuat ambisiku bertambah, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa lolos dan bisa merantau.
Ambisi jika kita tidak mampu meredamnya maka akan membawa malapetaka bagi diri yang empunya ambisi itu sendiri, sedang impian dan harapan jika tidak disertai usaha dan doa hanya akan menjadi angan-angan belaka, pelahan tapi pasti semua hal itu akan menghancurkan sesiapa saja yang merasa cukup dengan memilki harapan dan impian itu sendiri tanpa melibatkan Allah didalamnya. Sedang ambisi bagi yang tidak bisa meredamnya bagai api yang berlahan membakar lilin di malam hari, membawa pada kegelapan yang nyata. Maka dari itu kita harus dapat meredam ambisi yang ada pada diri masing-masing agar tak menjadi penyebab kehancuran itu sendiri.
Sampailah aku pada hari dimana hasil SNMPTN itu di umumkan, saat itu guru bimbingan konseling sekolah kami memberitahu bahwa pengumuman dapat dilihat secara online. Aku dengan perasaan deg-degan membuka laptop dan membuka website yang menampilkan pengumuman hasil SNPMPTN itu sendiri, perlahan aku memasukan nomor peserta dan proses pengumuman sedang dimuat, dalam hati aku terus meyakinkan bahwa aku pasti lolos, dan saat halaman web terbuka terdapat pengumuman disana dengan bertuliskan “MAAF ANDA TIDAK LULUS, SILAHKAN COBA KEMBALI, TERIMAKASIH”
Bagai tersambar petir disiang bolong kala membaca tulisan yang tertera di halama web tersebut. Aku bertanya dalam hati, apakah ini benar, bukan mimpi ? sejenak aku berharap bahwa itu adalah mimpi belaka, hati maupun pikiranku menolak adanya tulisan itu di halaman web itu, seharusnya tulisan itu memuat kata yang lebih indah tapi mimpi buruk apakah ini, dan dengan berat hati aku menutup pengumuman itu, berharap tak pernah melihat dan mengingatnya, karena itu sangat menyakitkan bagiku. Aku jadi teringat sekitar 3 tahun yang lalu hal yang sama terjadi padaku saat aku mendaftarkan diri di SMA terfavorit yang ada di Tasikmalaya, tulisan dan kata-kata yang disampaikan guru kala itu sama seperti tulisan yang baru saja aku lihat di halama web milik DIKTI. Dengan segera aku melangkan menuju rumah saudaraku, memastikan kabar yang ia dapatkan dari pengumuman hari itu. Saat berada dirumahnya aku mendapati kabar bahwa ia sedang berada disekolah, membuka pengumumannya disana bersama kawan-kawannya. Dengan perasaan tak sabar aku menunggunya dan tak lama ibunya memberitahuku bahwa sepupuku itu lulus dan dapat dipastikan menjadi bagian dari keluarga besar jurusan Kimia Murni di ITB.
Mendengar itu perasaanku bercampur aduk, entah harus sedih atau senang, entah harus tersenyum atau menangis, aku pulang dengan langkah letih membayangkan bahwa aku harus merelakan impian dan harapanku sirna didepan mataku, kesempatan berada dalam satu kopta yang sama dengan saudaraku itu hilang, bayangan bahwa aku harus masuk ke Universitas Swasta di Tasikmalaya, tak sempat aku beristirahat dari pikiranku sejurus kemudian aku mendapatkan pesan dari kawan-kawan sekelasku, sesiapa saja yang lulus dalam seleksi SNMPTN itu dan salah satunya ada kawanku yang secara dzahir lebih dibawah dariku jika masalah prestasi, namun dia lulus dan menjadi keluarga besar UNPAD, hal itu membuat perasaanku semakin campur aduk. Setelah sampai dirumah aku mengurung diriku didalam kamar dan menangis sejadi-jadinya, kekecewaan yang aku alami sepertinya tidak ada habisnya. Kabar bahagia dari kawan-kawan menjadi kabar buruk bagiku kala itu.
Ibundaku bertanya dan aku menjelaskan bahwa aku tak lulus masuk ke UPI dan mencoba menenangkan, namun itu tak cukup, perlahan ambisiku itu membawaku dalam jurang kegelapan, hatiku menyalahkan ibunda yang tak sepenuhnya meridhoi aku mendaftar kala itu. Aku menangis dan terus menangis setiap ada yang bertanya buka jawaban berupa ucapan yang aku berikan namun air mata, dan itu cukup membuat orang diam. Dan ketika ibunda menyuruhku untuk beristirahat satu tahun agar beliau dapat menyelesaikan kuliah kakak laki-lakiku membuatku semakin marah dan merasa dibeda-bedakan, beberapa kali aku tak mau makan karena tidak terima dengan keputusan ibunda.
Hal itu membuat ibunda khawatir, ya setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun karena alasan ekonomi mengharuskan beliau memikirkan hal itu yang berdampak pada rasa sakit yang dialami anaknya. Tak ingin anaknya berada dalam keterpurukan, akhirnya beliau mengizinkanku mendaftar kuliah, namun hanya di Universitas Siliwangi yang pada saat itu berstatus Universitas Swasta. Mau tidak mau aku mengikuti saran beliau dan keluargaku, aku mendaftar dan masih bingung harus mengambil jurusan apa. Ibunda bersikeras agar aku mengambil jurusan Matematika sedang aku lebih tertarik pada Bahasa Inggris, beliau beranggapan bahwa aku akan mampu mengikuti perkuliahan dan akan menjadi calon guru yang baik untuk masa depan, tetapi aku tidak percaya pada kemampuan diriku, mungkin saja aku mampu mengikuti perkulihan mendapat nilai yang sempurna, namun untuk menjadi guru dan mengajarkannya pada banyak orang, aku khawatir jika hal itu tak dapat aku lakukan. Aku lebih tertarik pada Bahasa Inggris. Sampai kakakku yang di Bandung memberikan masukan lewat telpon, jika ingin pandai berbahasa inggris itu dapat dilakukan dengan mengikuti pelajaran tambahan atau private pada ahlinya, karena memang bahasa pasti diperlukan untuk masa depan, tetapi jika ilmu lain seperti matematika dan yang lainnya itu hanya akn didapatkan hanya dengan memahami ilmunya, hal itu membuatku bingung, sampai ada saudaraku yang lain menyarankan untuk mengambil jurusan manajemen, walaupun satu fakultas dengan jurusan akuntansi yaitu fakultas ekonomi, namun jurusan manajemen dapat lulus dengan target 3,5 tahun.

Dengan perasaan bingung aku mendaftar di jurusan manajemen sebagai pilihan pertama dan bahasa inggris di pilihan kedua, dan kabar yang aku dapat setelah itu adalah bahwa aku diterima di jurusan Manajemen dan menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Ekonomi Universitas Siliwang disingkat UNSIL. 

1 komentar: