Pada dasarnya manusia
memiliki impian dan harapan masing-masing, karena dengan impian dan harapan
menjadikan diri manusia itu lebih hidup dan lebih berwarna, selain itu pula
menjadikan diri terasa mempunyai masa depan yang lebih cerah. Harapan dan
impian itu ada agar manusia itu dapat lebih berkhusnudzon kepada Sang Pencipta.
Tetapi terkadang manusia itu lupa melibatkan Allah di setiap mimpi dan
harapannya. Dan hal itu pernah aku alami sendiri. Ketika kita merasa bahwa
setiap mimpi itu dapat dicapai hanya dengan kerja keras dan berada pada tingkat
keyakinan seseorang pada dirinya sendiri.
Saat itu adalah hari
dimana aku harus masuk sekolah kemabli dan berada di kelas 12 SMA negeri di
Tasikmalaya, dia tahun pelajaran 2012/2013 ini adalah tahun penentu apakan aku
dan kawan-kawan akan berhasil lulus ditahap Ujiana Nasional dan mengakhiri
status kami menjadi seorang siswa SMA atau harus menelan pahitnya pil kegagalan
belajar selama 3 tahun lamamnya. Tahun itu menjadi tahun ekstra dalam belajar
bagi aku dan kawa-kawan sekelas. Segala jenis pembelajaran kami lakukan mulai
dari pemadatan bersama guru-guru pengampu pelajaran maupun belajar kelompok.
Membahas soal-soal yang diprediksi akan keluar dalam Ujian Nasional mendatang.
Saat itu kami harus
belajar lebih keras dari sebelumnya, segala bentuk kegiatan diluar pembelajaran
kami hentikan, saat itu diawal kelas 12 aku masih menjabat sebagai ketua OSIS 1
atau lebih lazim di panggil wakil ketua OSIS, amanah yang berat itu harus
segera di selesaikan mengingat bahwa aku sudah memasuki tahap akhir menjadi
seorang siswi SMA. Maka dari itu, setelah segala program selesai, aku dan
kawan-kawan lansung melakuakn serah terima jabatan yang sebelumnya telah
dilakukan pemilihan ketua OSIS baru, hal itu diikuti oleh organisasi
ekstrakulikuler yang lainnya. Setelah serah terima jabatan selesai bukan
berarti kami bersantai ria karena tantangan selanjutnya telah menunggu yakni
pintu gerbang menuju masa depan perlahan terbuka , semakin hari pintunya
terbuka lebar dan semakin lebar saja.
Pembelajaran harus
semakin dipadatkan saja dan waktu untuk bersenang-senang sudah tak ada lagi.
Hal yang paling diingat dan akan terus diingat adalah ketika aku dan
kawan-kawan duduk bersama didepan koperasi sekolah dengan berlembar-lembar soal
Ujian Nasional tahun 2012 dan alat tulis ditangan. Salah satu kawan aku yang
memiliki lebih banyak pemahaman di pelajaran fisika tampil sebagai tutor dan dengan sabar
mengajarkan kami menjelaskan pada kami hal yang tidak kami pahami. Hal seperti
ini terus dilakukan guna memberikan pemahaman menghadapi soal-soal nanti.
Saat itu fokus kami
hanya tentang Ujian Nasioanal semata, tanpa kami sadari bahwa periode
pengenalan Universitas dan Sekolah Tinggi sudah mulai berjalan. Tepatnya pada
bulan Desember 2012 sampai Januari 2013 adalah waktu terpadat sekolah kami
kedatangan kakak-kakak mahasiswa, mereka mulai memperkenalkan kampus tempat
mereka menimba ilmu, menjadi seorang mahasiswa. Pikiran yang terlintas pada
kami masa itu adlah menjadi seorang mahasiswa itu bebas berekspresi, bebas
tugas, bebas segala-galanya. Kami pun mulai mempersiapkan diri untuk memasuki
periode baru pembelajaran yaitu mempersiapkan pendaftan masuk ke Universitas
kenamaan di Indonesia. Begitupun yang aku lakukan kala itu, aku mulai sibuk
memilih Universitas dan Jurusan mana yang akan aku ambil, berbagai macam
informasi aku cari mengenai Universitas-universita yang ada di Indonesia dari
Sabang sampai Merauke rasanya sudah aku cari masa itu. Namun tetap yang menjadi
target aku pada universitas yang ada di Bandung, yaitu Universitas Padjadjaran
dan Universitas Pendidikan Indonesia. Alasan mengapa aku memilih kedua
Universitas itu untuk merajut mimpi dan harapan adalah karena reputasi
Universitas yang tak terbantahkan lagi dan karena masih berada di tanah sunda.
Pendaftran pun dilakukan di bulan Januari 2013 dengan bantuan guru bimbingan
konseling.
Saat memilih jurusan
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, aku mencoba
berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarga terutama ibunda. Aku menjelaskan
pada ibu bahwa aku berminat untuk melanjutkan pendidikan dengan memilih jurusan
Hubungan Internasional jika diterima di Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan
Pendidikan Kimia jika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), namun hal yang
membuatku sedikit kecewa adalah tidak satupun dari dua jurusan itu yang diinginkan
ibunda untuk menjadi masa depanku, beliau lebih menginginkan jika aku mengambil
jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar disingkat PGSD di UPI kampus Tasikmalaya,
atau Pendidikan Matematika di Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Mengingat
bahwa aku adalah anak bungsu dikeluargaku ibu tak ingin aku terlalu jauh
darinya. Hal itu tentunya tak masuk dalam daftar rencanaku kala itu, aku adalah
gadis kecil dengan rencana besar, menginginkan keluar dari zona nyaman,
menginginkan memiliki pengalaman hidup merantau di belahan bumi yang lain,
tidak hanya berada di Tasikmalaya.
Saran tinggallah saran,
meskipun tidak sepenuhnya diizinkan mendaftar masuk ke jurusan yang aku
inginkan, aku tetap saja mendaftar namun hanya jurusan Pendidikan Kimia saja
yang aku pilih, karena Hubungan Internasional dirasa lebih berat saingannya
dibanding dengan Pendidikan Kimia. Alasan mengapa aku memilih jurusan itu,
dikarenakan pertama aku menyukai mata pelajaran itu pada masa SMA, dan kedua
aku ingin menang dalam persaingan dalam hal belajar antara aku dan saudara
sepupuku yang memang tak pernah terpisahkan sejak masa TK sampai SMA, walaupun
persaingan itu hanya aku saja yang membuatnya, karena saudaraku itu tidak
pernah merasa bersaing dengan diriku. Ya dia mendaftar masuk ke jurusan Kimia
Murni di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pendaftran sudah
dilakukan, tinggal menunggu hasil untuk mengetahui apakan aku masih akan berada
dikota yng sama dengan saudaraku atau tidak. Ambisiku untuk mengalahkannya
dalah hal belajar sangat tinggi, karena itu aku harus lebih baik atau paling tidak
setara dengannya dalam hal keilmuan. Tak sabar rasanya menunggu hasil , kami
daftar melalui jalur prestasi dan hal yang diperhit ngkan panitia penerimaan
mahasiswa kala itu adalah berdasarkan nilai raport masing-masing siswa. Selain
bersama saudaraku, aku pun harus bersaing bersama teman-teman sekelasku dan
teman-teman satu sekolah, ada hal yang tak akan aku lupakan kembali yaitui saat
menunggu hasil, aku dan kawan-kawan sekelasku yang perempuan menuliskan harapan
dam impian kami masing-masing salah satunya harapan untuk dapat diterima di
Universitas impian kami dalam sebuah kertas, dan kertas itu diselipkan salah
satu kawanku dalam Al-Quran miliknya, menurutnya agar lebih mudah didoakan,
mungkin bagi sebagian orang hal itu buang-buang waktu dan perilaku konyol, tapi
bagi kami kala itu adalah bagian dari doa atas harapan dan impian kami.
Sambil menunggu
pengumuman hasil berikut menunggu jadwal Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional
kala itu waktuku bersama kawan-kawan lebih banyak lagi dihabiskan untuk belajar
dan berdiskusi. Bulan Maret pun tiba, ini adalah waktunya menhadapi ujian.
Ujian Nasional sudah di depan mata. Segala bentuk pembelajaran sudah dilakukan,
dan kami sudah siap menghadapi perang bersama soal-soal itu. Kami siap berempur
menghadapi 20 paket soal ujian, ini akrtinya dalam satu kelas masing-masing
siswa mendapat 1 paket soal, dan tidak ada yang sama maka akan sedikit sekali
kecurangan dilakukan siswa dalam ujian ini. Aku adalah salah satu siswa yang
sangat bersyukur dengan adanya 20 paket soal ini, hal ini akan membuktikan
kemampuan masing-masing siswa, tanpa adanya kecurangan dalam praktik ujian ini.
Karena aku yakin bahwa hasil tak akan mengkhianati proses, proses belajar dan
berdiskusi selama beberapa bulan ini akan membuahkan hasil yang manis, itu
pasti adanya.Ujian pun dijalankan dengan penuh khidmat, tanpa gaduh dan tanpa
kecurangan. Periode ujian ini berlalu selama 1 minggu saja, setelahnya kami
terbebas dari beban belajar lebih keras dari biasanya.
Selesai masa ujian,
waktu kami habiskan untuk bermain dan bersenang-senang ala siswa SMA, ya
apalagi jika bukan menonton film bersama di kelas, dan banyak lagi. Pada
dasarnya kami kala itu tidak sepenuhnya bebas karena kami masih harus deg-degan
dengan hasil ujian dan hasil SNMPTN yang tak kunjung datang. Hari demi hari
kami jalani dengan perasaan cemas. Namun aku merasa bahwa aku akan lulus dalam
seleksi SNMPTN maupun dalam Ujian Nasional ini, karena aku yakin bahwa aku
memiliki kemampuan untuk itu. Dan memang pada dasarnya anganku menginginkan aku
untuk lolos, karena jika tidak lolos maka ibundaku tak mengizinkan kembali
untuk mendaftar menjadi mahasiswa di luar kota Tasikmalaya. Hal itu yang
membuat ambisiku bertambah, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa lolos dan bisa
merantau.
Ambisi jika kita tidak
mampu meredamnya maka akan membawa malapetaka bagi diri yang empunya ambisi itu
sendiri, sedang impian dan harapan jika tidak disertai usaha dan doa hanya akan
menjadi angan-angan belaka, pelahan tapi pasti semua hal itu akan menghancurkan
sesiapa saja yang merasa cukup dengan memilki harapan dan impian itu sendiri
tanpa melibatkan Allah didalamnya. Sedang ambisi bagi yang tidak bisa
meredamnya bagai api yang berlahan membakar lilin di malam hari, membawa pada
kegelapan yang nyata. Maka dari itu kita harus dapat meredam ambisi yang ada
pada diri masing-masing agar tak menjadi penyebab kehancuran itu sendiri.
Sampailah aku pada hari
dimana hasil SNMPTN itu di umumkan, saat itu guru bimbingan konseling sekolah
kami memberitahu bahwa pengumuman dapat dilihat secara online. Aku dengan
perasaan deg-degan membuka laptop dan membuka website yang menampilkan pengumuman hasil SNPMPTN itu sendiri, perlahan
aku memasukan nomor peserta dan proses pengumuman sedang dimuat, dalam hati aku
terus meyakinkan bahwa aku pasti lolos, dan saat halaman web terbuka terdapat
pengumuman disana dengan bertuliskan “MAAF ANDA TIDAK LULUS, SILAHKAN COBA
KEMBALI, TERIMAKASIH”
Bagai tersambar petir
disiang bolong kala membaca tulisan yang tertera di halama web tersebut. Aku bertanya
dalam hati, apakah ini benar, bukan mimpi ? sejenak aku berharap bahwa itu
adalah mimpi belaka, hati maupun pikiranku menolak adanya tulisan itu di
halaman web itu, seharusnya tulisan itu memuat kata yang lebih indah tapi mimpi
buruk apakah ini, dan dengan berat hati aku menutup pengumuman itu, berharap
tak pernah melihat dan mengingatnya, karena itu sangat menyakitkan bagiku. Aku
jadi teringat sekitar 3 tahun yang lalu hal yang sama terjadi padaku saat aku
mendaftarkan diri di SMA terfavorit yang ada di Tasikmalaya, tulisan dan
kata-kata yang disampaikan guru kala itu sama seperti tulisan yang baru saja
aku lihat di halama web milik DIKTI. Dengan segera aku melangkan menuju rumah
saudaraku, memastikan kabar yang ia dapatkan dari pengumuman hari itu. Saat
berada dirumahnya aku mendapati kabar bahwa ia sedang berada disekolah, membuka
pengumumannya disana bersama kawan-kawannya. Dengan perasaan tak sabar aku
menunggunya dan tak lama ibunya memberitahuku bahwa sepupuku itu lulus dan
dapat dipastikan menjadi bagian dari keluarga besar jurusan Kimia Murni di ITB.
Mendengar itu
perasaanku bercampur aduk, entah harus sedih atau senang, entah harus tersenyum
atau menangis, aku pulang dengan langkah letih membayangkan bahwa aku harus
merelakan impian dan harapanku sirna didepan mataku, kesempatan berada dalam
satu kopta yang sama dengan saudaraku itu hilang, bayangan bahwa aku harus
masuk ke Universitas Swasta di Tasikmalaya, tak sempat aku beristirahat dari
pikiranku sejurus kemudian aku mendapatkan pesan dari kawan-kawan sekelasku,
sesiapa saja yang lulus dalam seleksi SNMPTN itu dan salah satunya ada kawanku
yang secara dzahir lebih dibawah dariku jika masalah prestasi, namun dia lulus
dan menjadi keluarga besar UNPAD, hal itu membuat perasaanku semakin campur
aduk. Setelah sampai dirumah aku mengurung diriku didalam kamar dan menangis
sejadi-jadinya, kekecewaan yang aku alami sepertinya tidak ada habisnya. Kabar
bahagia dari kawan-kawan menjadi kabar buruk bagiku kala itu.
Ibundaku bertanya dan
aku menjelaskan bahwa aku tak lulus masuk ke UPI dan mencoba menenangkan, namun
itu tak cukup, perlahan ambisiku itu membawaku dalam jurang kegelapan, hatiku
menyalahkan ibunda yang tak sepenuhnya meridhoi aku mendaftar kala itu. Aku
menangis dan terus menangis setiap ada yang bertanya buka jawaban berupa ucapan
yang aku berikan namun air mata, dan itu cukup membuat orang diam. Dan ketika
ibunda menyuruhku untuk beristirahat satu tahun agar beliau dapat menyelesaikan
kuliah kakak laki-lakiku membuatku semakin marah dan merasa dibeda-bedakan,
beberapa kali aku tak mau makan karena tidak terima dengan keputusan ibunda.
Hal itu membuat ibunda
khawatir, ya setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun
karena alasan ekonomi mengharuskan beliau memikirkan hal itu yang berdampak
pada rasa sakit yang dialami anaknya. Tak ingin anaknya berada dalam
keterpurukan, akhirnya beliau mengizinkanku mendaftar kuliah, namun hanya di
Universitas Siliwangi yang pada saat itu berstatus Universitas Swasta. Mau
tidak mau aku mengikuti saran beliau dan keluargaku, aku mendaftar dan masih
bingung harus mengambil jurusan apa. Ibunda bersikeras agar aku mengambil
jurusan Matematika sedang aku lebih tertarik pada Bahasa Inggris, beliau
beranggapan bahwa aku akan mampu mengikuti perkuliahan dan akan menjadi calon
guru yang baik untuk masa depan, tetapi aku tidak percaya pada kemampuan
diriku, mungkin saja aku mampu mengikuti perkulihan mendapat nilai yang
sempurna, namun untuk menjadi guru dan mengajarkannya pada banyak orang, aku khawatir
jika hal itu tak dapat aku lakukan. Aku lebih tertarik pada Bahasa Inggris.
Sampai kakakku yang di Bandung memberikan masukan lewat telpon, jika ingin
pandai berbahasa inggris itu dapat dilakukan dengan mengikuti pelajaran
tambahan atau private pada ahlinya,
karena memang bahasa pasti diperlukan untuk masa depan, tetapi jika ilmu lain
seperti matematika dan yang lainnya itu hanya akn didapatkan hanya dengan
memahami ilmunya, hal itu membuatku bingung, sampai ada saudaraku yang lain
menyarankan untuk mengambil jurusan manajemen, walaupun satu fakultas dengan
jurusan akuntansi yaitu fakultas ekonomi, namun jurusan manajemen dapat lulus
dengan target 3,5 tahun.
Dengan perasaan bingung aku mendaftar di
jurusan manajemen sebagai pilihan pertama dan bahasa inggris di pilihan kedua,
dan kabar yang aku dapat setelah itu adalah bahwa aku diterima di jurusan
Manajemen dan menjadi bagian dari keluarga besar Fakultas Ekonomi Universitas
Siliwang disingkat UNSIL.
Emejing ka 👍
BalasHapus